Apabila
kita menonton satu pertandingan sepakbola, maka lebih dahulu sekali kita mesti
pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan
itu. Kalau tidak begitu bingunglah kita. Kita tak bisa tahu siapa yang kalah,
siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak.
Begitulah
kalau kita masuki pustaka filsafat yang mempunyai ratusan, ya, ribuan buku itu.
Kita lebih dahulu mesti pisahkan arah-pikiran para ahli filsafat. Kalau tidak,
niscaya bingunglah kita, tak bisa memisahkan siapa yang benar, siapa yang
salah. Seperti para pemain sepak bola tadi kacau balau di mata kita, tak tahu
apa maksudnya masing-masing, begitulah di mata kita para ahli filsafat berkata
semau-maunya saja, kalau tak ada pangkal tak ada ujung.
Tetapi
memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan
membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama
membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan
pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus
Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi
dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di
belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das
Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels
sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti
Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi.
Sebagai
co-creator Engels melanjutkan dan mendalamkan paham Dialektis Materialisme dan
komunisme, dengan bahasa yang terang, populer, jitu dan merdu. Engels
memisahkan para ahli filsafat dari jaman Yunani sampai pada masa hidupnya
Marx-Engels dalam dua barisan. Pada satu barisan terdapat kaum Idealis yang bertentangan
dengan barisan kedua, kaum materialis. Kaum Idealis "umumnya" memihak
pada kaum yang berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada
proletar dan kaum tertindas. Kadang-kadang perlawanan tinggal tersembunyi
tetapi kadang-kadang terbuka terus-terang, cocok dengan riwayatnya perjuangan
proletar dan kapitalis dalam politik. Kadang-kadang idealis di luarnya itu,
materialis di dalamnya, sarinya; Spinoza, kadang-kadang materialis di luarnya,
tetapi di dalamnya idealis.
Menurut
pemisahan yang diadakan oleh Engels, maka pada barisan idealis, kita dapati
penganjur terkemuka sekali seperti Plato, Hume, Berkeley yang berpuncak pada
Hegel. Pada barisan materialis, kita dapati Heraklit, Demokrit dan Epikur, di
masa Yunani, Diderot, Lamartine di masa revolusi Perancis yang berpuncak pada
Marx-Engels. Di antaranya itu didapati banyak ahli filsafat campur aduk
scientists, setengah idealis setengah materialis.
Biasanya
musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan "materialisme" itu
sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak
terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya
saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu
ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari
pada makan, dan kebudayaan yang sampai menjaduhi kaum ibu seperti seorang
santri, resi. Dalam keadaan yang benar, dalam kehidupan mereka, kita tidak
sekali dua kali berjumpa, dengan seorang yang memangku paham idealis berlaku
sebaliknya dari persangkaan itu, sedangkan dalam kalangan materialis banyak
kita dapati orang hidup dengan segala sederhana dan seperti suami dan bapak
yang setia.
Idealis
dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran buat memisahkan para ahli filsafat
dalam dua barisan, semata-mata berdasarkan atas sikap yang diambil si pemikir,
ahli filsafat dalam persoalan yang sudah kita tuliskan lebih dahulu, yakni mana
yang pertama, primus, mana yang kedua. Benda atau fikiran, matter atau idea.
Yang mengatakan pikiran lebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang
idealis. Yang mengikut materialisme, itulah yang materialis. Hidup segala
sederhana, atau mau segala lebih dengan tiada memperdulikan kesehatan diri
sendiri, dan kebaikan buat masyarakat itu bergantung kepada watak masyarakat,
dan didikan masing-masing orang.
Dengan
memakai pemisahan yang diadakan oleh Engels, filsafat menjadi persoalan yang
mudah bagi kita. Dengan mengambil satu contoh, satu model saja, kita bisa
ketahui seluk beluknya perkara yang bersamaan dan bersangkutan. Dengan David
Hume sebagai ahli filsafat idealis, kita bisa gambarkan semua ahli filsafat
idealis dari Plato sampai Hegel.
"If
I go into myself", "kalau saya masuki diri saya sendiri", kata
Hume, maka saya jumpai "bundles of conceptions", bergulung-gulung
pengertian, bermacam-macam gambaran dari pada benda.
Kalau Hume hendak mengetahui apakah benda yang bernama buah jeruk itu
umpamanya, maka yang ia insyafi cuma rasanya yang manis itu, kulitnya yang
licin itu, beratnya yang 1/2 atau ¼ kilo itu, warnanya yang hijau atau kuning
itu, bunyinya yang nyaring atau lembek itu. Bunyi itu ada di telinga, dalam
badan Hume, bukan pada jeruk, beratnya di tangan Hume, bukan pada jeruk,
rupanya pada mata, rasanya di lidah atau di ujung jari Hume. Semuanya bunyi,
rupa dan rasa itu dengan perantaraan saraf, nerve, berjalan ke pusat ke centre,
ke otak.
Otak
mencatat bunyi, rupa dan rasa tadi menjadi pengertian, conception, seperti
pengertian merdu, kuning, berat, lezat dan licin. Semua pengertian ini "
dalam" saya, kata Hume, bukan di luar saya. Jeruk itu sebagai benda, tak
ada bagi saya. Yang ada Cuma "ide", pikiran, pengertian, tentang
benda itu dalam otak saya. Otak saya penuh dengan pengertian "bundles of
conceptions" kata Hume. Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, tak ada
buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, gambaran dari jeruk, lembu,
bumi, bintang dan engkau. "Engkau" kata Hume, cuma "ide"
buat saya.
Tetapi
Engkau buat Hume adalah saya buat tuan Smith umpamanya, dan saya buat Hume,
adalah engkau buat Smith. Jadi engkau cuma ide, cuma gambaran buat Hume itu
mestinya juga gambaran buat Smith. Hume yang dipandang dari pihak Smith ialah
engkau mestinya satu gambaran, satu ide saja. Tak ada Hume itu buat Smith
sebagai orang, sebagai ahli filsafat. Yang ada cuma gambaran dalam otak Smith.
Dengan
begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku ide saja, membatalkan adanya
dirinya sendiri, mengakui bahwa sebetulnya dia sendiri tak ada. Beginilah
akibatnya yang konsekwen dari Idealisme, dengan membatalkan adanya benda, ia
membatalkan dirinya sendiri.
Demikianlah
David Hume dengan memisahkan ide dari benda, abstraction dan menganggap ide
yang pertama, dalam menentang benda sebagai dasar yang pertama, tewas dalam
tentangannya membatalkan adanya diri sendiri. Dengan begitu ia sebetulnya
membatalkan filsafat idealisme itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar