Pada umumnya, kalangan muslim akan menganggap pihaknya sebagai kelompok Ahlussunnah wal Jamaah. Sebab, hanya
kelompok inilah yang nantinya akan diridlai Tuhan pada hari Akhirat nanti,
sedangkan kelompok lain yang jumlahnya banya akan terlempar.
Namun, satu hal
yang memprihatinkan, tatkala Ahlussunnah
wal Jamaah dijadikan sebagai klaim untuk mengabsahkan kekerasan terhadap
kelompok yang dianggap salah, sesat, dan menyimpang. Tentu hal ini menimbulkan
tanda Tanya perihal apa sesungguhnya yangterjadi dalam pemaknaan terhadap paham
Ahlussunnah wal Jamaah
Dalam beberapa
tahun terakhir, mereka yang mengusung
paham Ahlussunnah wal Jamaah merupakan
kelompok mayoritas di kalangan umat Islam. Hal itu memberikan kebanggaan
tersendiri di satu sisi karena mereka mempunyai komitmen untuk mengikuti sunnah
yang telah diewariskan kepada para sahabat, tabiin, dan para ulama saleh.
Tetapi, juga tidak bias dipungkiri, hal itu juga menimbulkan kekhawatiran
karena ekspresi dan manifestasi dari paham tersebut tidak selalu berjalan
linerar. Artinya, pemahaman mereka lebih identik dengan kalanganan monistik,
yang menganggap hanya ada pemahaman tunggal. Sedangkan pemahaman yang lain
dianggap keliru, bahkan sesat.
Kekhawatiran
yang terakhir ini bukanlah sebuah ilusi belaka, melainkan sesuatu yang nyata.
Sebuah kelompok yang mengklaim dirinya sebagi penganut Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi faktanya mereka membawa misi
kekerasan dalam aktivitasnya. Bahkan, kekerasan menjadi salah satu ideologi
terdepan. Semua paham keagamaan diberangkatkan dari proposisi bahwa kekerasan
merupakan fundamen agama. Mereka biasanya menggunakan term amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menegakkan kebajikan dan menumpas
kemungkaran dengan menggunakan kekerasan sebagai ide utamanya.
Disini terletak
pentingnya memberikan pemahaman distingtif tentang Ahlussunnah wal Jamaah, sebagaimana yang dimaksud oleh
Hadratussyaikh bersama sejumlah ulama yang bersama-sama membentuk kelahiran
Nahdlatul Ulama, yaitu sebuah organisasi keislaman yang telah memberikan
inspiasi bagi sebagian umat Islam di tanah air untuk menjalankan misi Islam
sebagai agama yang mengedepankan toleransi dan moderatisme dalam pemahaman
keagamaan. Misi tersebut dipopulerkan dengan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu islam yang
dibangun di atas fundamen kasih saying bagi seluruh manusia di seantero alam
dan juga makhluk-makhluk lain yang berada di muka bumi ini.
Langkah ini penting
bagi generasi muda Muslim untuk senantiasa mempunyai landasan pemikran yang
kuat di satu sisi, tetapi yang tidak
kalah penting dari semua itu adalah menerjemahkan pandangan dalam kehidupan
social yang relative majemuk. Sebuah pemahaman keagamaan yang mestinya mampu
melindungi dan menerima kemajemukan sebagai rahmat dan sunnah Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar