SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA, MEDIA EKSPRESI DAN BERBAGI...
Tampilkan postingan dengan label nu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nu. Tampilkan semua postingan

Ahlussunnah Wal Jamaah : Penegasan Kiai Hasyim

Kiai Hasyim dalam Risalah fi Taakkud al-Akhdzi bi Madzahib al-Aimah al-Arba’ah (Pesan tentang Pentingnya Mengambil dari Imam Mazhab yang Empat) menegaskan bahwa berpengang teguh pada empat Imam Mazhab dalam fikih akan mendatangkan manfaat yang besar. Sebaliknya, mereka yang menentangnya akan mendapatkan masalah yang amat besar. Ada beberapa alasan yang di kemukakan. Pertama, mengacu pada ulama salaf merupakan consensus para ulama. Paham keagamaan, khususnya hukum Islam, merupakan sebuah mata rantai yang tidak terputus. Para pengikut sahabat (tabi’in) mendasari pandangannya kepada para sahabat Nabi. Begitu pula para pengikut tabi’in (tabi’i  tabi’in) juga mengikuti para sahabat tabi’in dan seterusnya. Hal itu meneguhkan bahwa seseorang tidak bias langsung memehami teks Al Qur’an. Diperlukan sebuah kearifan dan keseriusan untuk memahami pandangan ulama terdahulu dan tidak menganggap pandangannya sebagai pandangan yang paling benar.

Makna Ahlussunnah wal Jamaah

Dalam buku Risalah Ahlis-Sunnah wal Jama’ah: fi Haditsil Mawta wa Asyarathis-Sa’ah wa Baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah (Paradigma Ahlussunnah wal Jamaah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah), Kiai Hasyim memulai pemaparannya tentang makna sunnah, baik secara literal maupun istilah, sebagaimana dikenal dalam khazanah islam.

Ahlussunnah wal Jamaah

Pada umumnya, kalangan muslim akan menganggap pihaknya sebagai kelompok Ahlussunnah wal Jamaah. Sebab, hanya kelompok inilah yang nantinya akan diridlai Tuhan pada hari Akhirat nanti, sedangkan kelompok lain yang jumlahnya banya akan terlempar.

Sejarah NU

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.