Sesungguhnya aku
malu tuk mengutarakan ini. Sangat malu. Aku malu jikalau sampai orang-orang
tahu akan rasa ini. Rasa yang telah sekian lama kupendam sendiri. Sekian waktu
ku simpan sendiri. Ku simpan dengan rapat, rapih, hingga orang-orang tidak bisa
membacanya. Karena bagiku cukup aku saja yang tahu rasa ini. Tidak dengan orang
lain. Karena aku sungguh sangat-sangat malu, malu sebenar-benar malu, jika
orang-orang tahu akan rasa ini. Eh tunggu, rasa ini? Ah, rasa apa memangnya?
Stowberry, nanas, apel, jeruk atau rasa apa? Dan lagi mengapa aku harus
malu?
Aneh rasa ini.
Rasa yang aku tidak tahu apa namanya. Aku benar-benar tidak tahu atau aku takut
dengan apa yang kurasa? Aku tak berani, takut untuk menyimpulkannya. Tak punya
nyali untuk mendefinisikannya. Bukan karena aku takut salah sebut atau salah
defenisi. Tapi aku takut, benar-benar takut jika benar apa yang kurasa ini. Ah,
entahlah yang mana alasan sebenarnya aku tidak tahu pasti.
Entah sejak
kapan rasa ini hadir. Entah bagaimana awalnya hingga rasa ini tumbuh menyubur.
Entah darimana hadirnya. Karena bagiku semua berjalan biasa saja, teramat biasa
malah. Dari awal hadirmu tidak ada yang istimewa. Tapi belakangan, entah sejak
kapan aku mulai memikirkanmu. Tak biasanya aku mengingat seseorang sampai lama
begini. Aku terusik olehmu. Waktuku terganggu olehmu. Aku merinduimu.
Apakah ini yang
disebut orang-orang dengan falling in love? Aku jatuh cinta?? Yang benar saja.
CINTA…?? Aku jatuh cinta?? Owwwhhh…benar-benar jatuh cinta kah? Entahlah aku
tidak tahu.
Jika benar ini
cinta, biarlah ku simpan sendiri. Biar ku pendam saja. Takkan ku kabarkan
padamu. Tak ingin ku katakan padamu. Karena cintaku tak perlu pengumuman. Bukan
karena aku tak ingin, tetapi karena sungguh tak layak tuk ku kabarkan padamu.
Tak pantas ku umumkan pada dunia. Biarlah…jika karenanya engkau harus berlalu,
mungkin cukup bagiku mencintamu dalam diam, lebih dari cukup, lebih dari indah
daripada harus kuhantarkan alamat rasa ini padamu.
Jika rasa ini
cinta, biar ku mencinta dalam sepiku. Mencintamu dalam diam. Biar ku mencinta
dalam sunyi, mencintamu dalam hening seperti Fatimah pada Ali.
Dan jika benar
ini cinta, biar ku redam, hingga satu waktu rasa ini kan terkubur sendiri, jika
memang tak pantas tuk ku jaga dan rawatnya. Tapi tahukah? Semakin kuat kucoba
membakar dan enyahkan rasa ini, semakin kuat energinya mengungkungku. Semakin
sakit kurasa. Tapi takkan kumampu terjang batas itu, pun rasanya tak akan
sanggup ku lakoni. Biarlah, biar saja lara menghias hariku. Biar saja perih menemaniku.
Biar saja sakit yang ku rasa. Aku kan bertahan dalam hening, sunyiku. Aku yakin
sanggup meski harus berjalan di atas duri. Aku yakin sanggup lewati ini semua.
Aku yakin sang waktu akan bermurah hati mengurangi beban ini, dan semua kan
berangsur pulih. Sang waktu yang kan menemaniku menawar luka ini, hingga aku
mampu berdamai dengan rasa ini. Aku yakin, sang waktu akan membantuku tuk
sembuh dari kesakitan ini. Ya, aku hanya butuh waktu tuk mengobat luka cinta
ini.
Tapi, jika ini
cinta, mengapa sakit sekali. Apakah cinta dan mencinta memang sakit? Jika ini
cinta, bukankah seharusnya aku bahagia karena punya cinta? Bukankah hidup
menjadi penuh warna dengan cinta? Bukankah cinta adalah semangat, tapi mengapa
aku jadi lemah begini? Bukankah cinta adalah anugerah terindah, karena tanpa
cinta hidup menjadi pekat? Bukankah…? Entahlah, rumit bagiku menafsirkan rasa
ini.
Jika rasa ini
cinta, maka kupastikan engkaulah cinta pertama bagiku. Aku tak mengerti mengapa
aku bisa mencintaimu. Kata orang cinta itu turun dari mata ke hati. Tapi…aku
tidak mengenalimu. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, seperti apa kehidupanmu.
Aku tidak pernah mendengar suaramu. Tapi anehnya engkau amat sering mencuri
waktuku dan aku…seperti menikmati. Apa mungkin ini salah satu makna dari banyak
jalan menuju Roma? Dan begitu pula dengan jalan cinta, ada banyak jalan menuju
cinta. Dan jalan cintaku? Bukan dari mata, juga bukan dari telinga. Lantas?
Cintaku dari hati. Ya…jalan cintaku ini datang dari hati. Hahaha…seperti
mengada-ada dan berlebihan bukan? Jalan cinta dari hati akan lebih mampu
bertahan, ini kata mereka yang katanya telah mengerti banyak tentang cinta.
Entahlah, aku pun tak mengerti. Andai rasaku padamu ini adalah cinta dan
cintaku datang dari hati, akan seberapa lamakah engkau mengisi ruang hatiku?
Akan sampai kapankah engkau hadir mencuri waktuku. Aku tidak tahu, sampai kapan
rasa ini untukmu, menjadi milikmu. Dan cinta dari hati hanya akan di dengar
oleh hati. Apakah hatimu bisa mendengar hatiku? Ah sudahlah, biar ku akhiri dengan
caraku sendiri. Bukan dengan mengenyahkan rasa ini, bukan dengan melupakanmu.
Karena itu hanya akan membuat aku semakin sakit. Aku akan berdamai dengan rasa
ini, tanpa melupakanmu tanpa membunuh rasa ini.
Apapun nama
untuk rasa ini, biarlah saja kupercayakan rasa ini pada pemilik kehidupan.
Meski penyair bersabda, “cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil
kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan”. Biarlah
saja cukup bagiku sang pemilik ketetapan yang memutuskan akhir dari rasa ini,
berlabuh atau berkorban. Biarlah Sang Penulis kisahku yang akan menuliskan
akhir kisah dari rasa ini apakah akan memiliki atau merelakan. Karena sungguh
aku pun tak mengerti rasa ini, apakah rasa ini semu, indah sesaat atau benar-benar
sejati yang lahir dari hati. Jika engkaulah yang kan menjadi cintaku, biarlah
saja janji kehidupan yang mempertemukan kita di jalanNya. Jikalah engkau yang
kan menjadi pelabuhanku, biarlah caraNya saja yang kan mempersatukan. Rasa ini
tak ingin milikimu, jika harus memaksakan rasa yang ku tanam. Tapi rasa ini
akan kujaga sepenuh hati, segenap jiwa jika rasa ini diamanahkan padaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar