SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA, MEDIA EKSPRESI DAN BERBAGI...

Mencinta Dalam Hening

Sesungguhnya aku malu tuk mengutarakan ini. Sangat malu. Aku malu jikalau sampai orang-orang tahu akan rasa ini. Rasa yang telah sekian lama kupendam sendiri. Sekian waktu ku simpan sendiri. Ku simpan dengan rapat, rapih, hingga orang-orang tidak bisa membacanya. Karena bagiku cukup aku saja yang tahu rasa ini. Tidak dengan orang lain. Karena aku sungguh sangat-sangat malu, malu sebenar-benar malu, jika orang-orang tahu akan rasa ini. Eh tunggu, rasa ini? Ah, rasa apa memangnya? Stowberry, nanas, apel, jeruk atau rasa apa? Dan lagi mengapa aku harus malu? 


Aneh rasa ini. Rasa yang aku tidak tahu apa namanya. Aku benar-benar tidak tahu atau aku takut dengan apa yang kurasa? Aku tak berani, takut untuk menyimpulkannya. Tak punya nyali untuk mendefinisikannya. Bukan karena aku takut salah sebut atau salah defenisi. Tapi aku takut, benar-benar takut jika benar apa yang kurasa ini. Ah, entahlah yang mana alasan sebenarnya aku tidak tahu pasti. 

Entah sejak kapan rasa ini hadir. Entah bagaimana awalnya hingga rasa ini tumbuh menyubur. Entah darimana hadirnya. Karena bagiku semua berjalan biasa saja, teramat biasa malah. Dari awal hadirmu tidak ada yang istimewa. Tapi belakangan, entah sejak kapan aku mulai memikirkanmu. Tak biasanya aku mengingat seseorang sampai lama begini. Aku terusik olehmu. Waktuku terganggu olehmu. Aku merinduimu. 

Apakah ini yang disebut orang-orang dengan falling in love? Aku jatuh cinta?? Yang benar saja. CINTA…?? Aku jatuh cinta?? Owwwhhh…benar-benar jatuh cinta kah? Entahlah aku tidak tahu. 

Jika benar ini cinta, biarlah ku simpan sendiri. Biar ku pendam saja. Takkan ku kabarkan padamu. Tak ingin ku katakan padamu. Karena cintaku tak perlu pengumuman. Bukan karena aku tak ingin, tetapi karena sungguh tak layak tuk ku kabarkan padamu. Tak pantas ku umumkan pada dunia. Biarlah…jika karenanya engkau harus berlalu, mungkin cukup bagiku mencintamu dalam diam, lebih dari cukup, lebih dari indah daripada harus kuhantarkan alamat rasa ini padamu. 

Jika rasa ini cinta, biar ku mencinta dalam sepiku. Mencintamu dalam diam. Biar ku mencinta dalam sunyi, mencintamu dalam hening seperti Fatimah pada Ali. 

Dan jika benar ini cinta, biar ku redam, hingga satu waktu rasa ini kan terkubur sendiri, jika memang tak pantas tuk ku jaga dan rawatnya. Tapi tahukah? Semakin kuat kucoba membakar dan enyahkan rasa ini, semakin kuat energinya mengungkungku. Semakin sakit kurasa. Tapi takkan kumampu terjang batas itu, pun rasanya tak akan sanggup ku lakoni. Biarlah, biar saja lara menghias hariku. Biar saja perih menemaniku. Biar saja sakit yang ku rasa. Aku kan bertahan dalam hening, sunyiku. Aku yakin sanggup meski harus berjalan di atas duri. Aku yakin sanggup lewati ini semua. Aku yakin sang waktu akan bermurah hati mengurangi beban ini, dan semua kan berangsur pulih. Sang waktu yang kan menemaniku menawar luka ini, hingga aku mampu berdamai dengan rasa ini. Aku yakin, sang waktu akan membantuku tuk sembuh dari kesakitan ini. Ya, aku hanya butuh waktu tuk mengobat luka cinta ini. 

Tapi, jika ini cinta, mengapa sakit sekali. Apakah cinta dan mencinta memang sakit? Jika ini cinta, bukankah seharusnya aku bahagia karena punya cinta? Bukankah hidup menjadi penuh warna dengan cinta? Bukankah cinta adalah semangat, tapi mengapa aku jadi lemah begini? Bukankah cinta adalah anugerah terindah, karena tanpa cinta hidup menjadi pekat? Bukankah…? Entahlah, rumit bagiku menafsirkan rasa ini.

Jika rasa ini cinta, maka kupastikan engkaulah cinta pertama bagiku. Aku tak mengerti mengapa aku bisa mencintaimu. Kata orang cinta itu turun dari mata ke hati. Tapi…aku tidak mengenalimu. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, seperti apa kehidupanmu. Aku tidak pernah mendengar suaramu. Tapi anehnya engkau amat sering mencuri waktuku dan aku…seperti menikmati. Apa mungkin ini salah satu makna dari banyak jalan menuju Roma? Dan begitu pula dengan jalan cinta, ada banyak jalan menuju cinta. Dan jalan cintaku? Bukan dari mata, juga bukan dari telinga. Lantas? Cintaku dari hati. Ya…jalan cintaku ini datang dari hati. Hahaha…seperti mengada-ada dan berlebihan bukan? Jalan cinta dari hati akan lebih mampu bertahan, ini kata mereka yang katanya telah mengerti banyak tentang cinta. Entahlah, aku pun tak mengerti. Andai rasaku padamu ini adalah cinta dan cintaku datang dari hati, akan seberapa lamakah engkau mengisi ruang hatiku? Akan sampai kapankah engkau hadir mencuri waktuku. Aku tidak tahu, sampai kapan rasa ini untukmu, menjadi milikmu. Dan cinta dari hati hanya akan di dengar oleh hati. Apakah hatimu bisa mendengar hatiku? Ah sudahlah, biar ku akhiri dengan caraku sendiri. Bukan dengan mengenyahkan rasa ini, bukan dengan melupakanmu. Karena itu hanya akan membuat aku semakin sakit. Aku akan berdamai dengan rasa ini, tanpa melupakanmu tanpa membunuh rasa ini.


Apapun nama untuk rasa ini, biarlah saja kupercayakan rasa ini pada pemilik kehidupan. Meski penyair bersabda, “cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan”. Biarlah saja cukup bagiku sang pemilik ketetapan yang memutuskan akhir dari rasa ini, berlabuh atau berkorban. Biarlah Sang Penulis kisahku yang akan menuliskan akhir kisah dari rasa ini apakah akan memiliki atau merelakan. Karena sungguh aku pun tak mengerti rasa ini, apakah rasa ini semu, indah sesaat atau benar-benar sejati yang lahir dari hati. Jika engkaulah yang kan menjadi cintaku, biarlah saja janji kehidupan yang mempertemukan kita di jalanNya. Jikalah engkau yang kan menjadi pelabuhanku, biarlah caraNya saja yang kan mempersatukan. Rasa ini tak ingin milikimu, jika harus memaksakan rasa yang ku tanam. Tapi rasa ini akan kujaga sepenuh hati, segenap jiwa jika rasa ini diamanahkan padaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar