Sesungguhnya aku
malu tuk mengutarakan ini. Sangat malu. Aku malu jikalau sampai orang-orang
tahu akan rasa ini. Rasa yang telah sekian lama kupendam sendiri. Sekian waktu
ku simpan sendiri. Ku simpan dengan rapat, rapih, hingga orang-orang tidak bisa
membacanya. Karena bagiku cukup aku saja yang tahu rasa ini. Tidak dengan orang
lain. Karena aku sungguh sangat-sangat malu, malu sebenar-benar malu, jika
orang-orang tahu akan rasa ini. Eh tunggu, rasa ini? Ah, rasa apa memangnya?
Stowberry, nanas, apel, jeruk atau rasa apa? Dan lagi mengapa aku harus
malu?
Home » Posts filed under coretan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Jembatan Keledai
Lewatlah
Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para
tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan.
Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan
menapak tulus lewati Jembatan Keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu
melingkar putar menghindar jalan-jalan buruk jika tabah melintas Jembatan
Keledai.
Sepotong Masa Lalu
Hari ini suasana di jalanan kota terasa begitu asri. Setiap hari
aku melalui jalanan ini. Jalanan trotoar yang sudah menjadi pijakan langkah
kakiku selama 2 bulan lebih ini. Sinar mentari pagi yang menusuk di antara
sela-sela rimbunan dedaunan pohon. Aku merasa seperti berada di film-film Korea
atau Jepang yang akhir-akhir ini aku tonton. Mereka berlalu-lalang dengan
berjalan kaki persis seperti yang aku lakukan saat ini. Namun itu hanya
bayanganku saja. Tak seperti yang aku lihat di hadapanku sekarang ini. Hampir
semua orang berlalu–lalang dengan sepeda motor dan mobil pribadi mereka yang
berhambur dengan truk pengangkut pasir, truk barang, becak dan bus. Beginilah
kehidupan pagiku setiap hari. Seakan tak luput dari keramaian walaupun jarum
jam di tanganku masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Surat Untukku
Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai
cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan
berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh langit dan
cahaya kilat sesekali memotret bumi. Di depan rumahnya yang sederhana, Rani
masih memegang bolpoin hitam dan secarik kertas serta sebuah amplop. Nampaknya,
dia ingin menuliskan sepucuk surat cinta kepada seseorang yang sedang membuat
dia jatuh cinta.
Hujan Datang Lagi
Hujan
datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari,
seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai
belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau, resapan tanah, hingga ke muara laut,
semua dilakoni.
Aku, Engkau, Kita (Tinggal Cerita)
Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona
cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera
turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh
mata memandang. Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin
bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk
semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset
bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi
awan gelap mendung.
Bayanganmu Dalam Pejamku
Lingkaran itu menyerupai bulan. Iya, memang bulan. Ternyata hari
kini telah malam. Di satu malam, detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat
dari biasanya. Aku terdiam, terpaku melihat di sekitar. Tembok-tembok yang
memagariku, membuat pikiranku semakin sempit. Aku benci keadaan ini. Aku butuh
ruang. Ruang yang terang dan lapang. Tapi, hatiku bertanya. Bagaimana dengan
pagi? Dimanakah pagi? Kapankah engkau kembali? Aku merindukanmu, sungguh! Aku
rindukan sentuhan hangatmu. Masihkah pagi itu menungguku disana? Tunggu aku!
Malam ini, dia akan segera pergi. Datanglah dan jemput aku disini. Aku membutuhkanmu,
pagi. Gantikan bulan itu menjadi mentari. Jadikan kelam ini sebuah cahaya di
pagi nanti. Yaa, aku rindukan pagi.
Aku, Kamu dan Kenangan
Barangkali kini kau tak tahu siapa aku, semenjak
perpisahan 3 tahun yang lalu mungkin waktu telah perlahan menghapus sedikit
demi sedikit memoar kenangan yang kita rajut bersama dan mungkin pula kau kini
telah banyak berubah dari segi fisik maupun sifat sebagaimana yang telah
menimpaku sekarang, sehingga kini jika saja aku bertemu denganmu mungkin ku tak
dapat mengenali wajah syahdumu seperti dulu.
Setitik Kenangan
Setitik kenangan datang kepada ku pagi ini. Menyapa di tengah
dinginnya udara yang berhembus. Kenangan itu tak datang sendiri, namun ia
membawa bayangmu bersamanya. Terasa sungguh menyenangkan, sekaligus menyakitkan
begitu ingat kau tak berada di dekat ku. Setitik kenangan yang datang tak hanya
bersama bayangmu, namun juga bersama kenangan yang kita bangun. Kenangan yang
kita tanam di dasar, kenangan yang tak akan pernah kita bagi pada siapapun.
Hujan Penghantar Kerinduan
Malam ditemani hujan deras memilukan hati, di situ Andi terkulai
di pojokan kamar menatap kosong jendela basah yang dihantam hujan. Sesekali
guntur menyapa, raut mukanya pucat, lesu, lunglai tak bergairah. Hanya sebuah
lilin kecil dengan cahaya kuning redup yang saat itu menemaninya. Andi tengah
sakit akibat seminggu ini dikejar dengan tugas skripsinya yang harus segera ia
selesaikan, ia kurang tidur, sehingga warna coklat pudar tapak jelas di bawah
mata mungil Andi. Kini ia tak berdaya, hanya bisa berkata juga mengedipkan
kelopak mata sebagai tanda ia masih ada.
Kenangan itu, Aku dan Kamu
Barangkali kini kau tak tahu siapa aku, semenjak
perpisahan 3 tahun yang lalu mungkin waktu telah perlahan menghapus sedikit
demi sedikit memoar kenangan yang kita rajut bersama dan mungkin pula kau kini
telah banyak berubah dari segi fisik maupun sifat sebagaimana yang telah
menimpaku sekarang, sehingga kini jika saja aku bertemu denganmu mungkin ku tak
dapat mengenali wajah syahdumu seperti dulu.
Break Even
“And when heart breaks no it don’t break
even
What am I suppose to do when the best part me always you?
What am I suppose to say when I’m all chocked up and you’re ok?
I’m falling to pieces”
What am I suppose to do when the best part me always you?
What am I suppose to say when I’m all chocked up and you’re ok?
I’m falling to pieces”
Langganan:
Postingan (Atom)

