SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA, MEDIA EKSPRESI DAN BERBAGI...
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

Mencinta Dalam Hening

Sesungguhnya aku malu tuk mengutarakan ini. Sangat malu. Aku malu jikalau sampai orang-orang tahu akan rasa ini. Rasa yang telah sekian lama kupendam sendiri. Sekian waktu ku simpan sendiri. Ku simpan dengan rapat, rapih, hingga orang-orang tidak bisa membacanya. Karena bagiku cukup aku saja yang tahu rasa ini. Tidak dengan orang lain. Karena aku sungguh sangat-sangat malu, malu sebenar-benar malu, jika orang-orang tahu akan rasa ini. Eh tunggu, rasa ini? Ah, rasa apa memangnya? Stowberry, nanas, apel, jeruk atau rasa apa? Dan lagi mengapa aku harus malu? 

Jembatan Keledai

Lewatlah Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan. Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan menapak tulus lewati Jembatan Keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu melingkar putar menghindar jalan-jalan buruk jika tabah melintas Jembatan Keledai.

Wanita Mendung

wanita+mendung
Rona warna gelap Muncul di balik utara
Menerawang seberapa digit dalam kegelisahan…
Aku terpenjara dalam kekuasaan waktu
Mengapa begini?
Terperangkap dalam mendung
Terbang dalam pelangi
Meniti cinta abadi,

Sepotong Masa Lalu

Hari ini suasana di jalanan kota terasa begitu asri. Setiap hari aku melalui jalanan ini. Jalanan trotoar yang sudah menjadi pijakan langkah kakiku selama 2 bulan lebih ini. Sinar mentari pagi yang menusuk di antara sela-sela rimbunan dedaunan pohon. Aku merasa seperti berada di film-film Korea atau Jepang yang akhir-akhir ini aku tonton. Mereka berlalu-lalang dengan berjalan kaki persis seperti yang aku lakukan saat ini. Namun itu hanya bayanganku saja. Tak seperti yang aku lihat di hadapanku sekarang ini. Hampir semua orang berlalu–lalang dengan sepeda motor dan mobil pribadi mereka yang berhambur dengan truk pengangkut pasir, truk barang, becak dan bus. Beginilah kehidupan pagiku setiap hari. Seakan tak luput dari keramaian walaupun jarum jam di tanganku masih menunjukkan pukul 6 pagi.

Surat Untukku

Hari itu, hari Selasa siang. Sepertinya matahari tak mempunyai cukup sinar untuk menerangi bumi pada hari Selasa itu. Rintik air hujan berirama berjatuhan turun dari langit, diiringi nada-nada gemuruh langit dan cahaya kilat sesekali memotret bumi. Di depan rumahnya yang sederhana, Rani masih memegang bolpoin hitam dan secarik kertas serta sebuah amplop. Nampaknya, dia ingin menuliskan sepucuk surat cinta kepada seseorang yang sedang membuat dia jatuh cinta.

Hujan Datang Lagi

Hujan datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari, seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau, resapan tanah, hingga ke muara laut, semua dilakoni.

Aku, Engkau, Kita (Tinggal Cerita)

Mendung sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang. Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.

Bayanganmu Dalam Pejamku

Lingkaran itu menyerupai bulan. Iya, memang bulan. Ternyata hari kini telah malam. Di satu malam, detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku terdiam, terpaku melihat di sekitar. Tembok-tembok yang memagariku, membuat pikiranku semakin sempit. Aku benci keadaan ini. Aku butuh ruang. Ruang yang terang dan lapang. Tapi, hatiku bertanya. Bagaimana dengan pagi? Dimanakah pagi? Kapankah engkau kembali? Aku merindukanmu, sungguh! Aku rindukan sentuhan hangatmu. Masihkah pagi itu menungguku disana? Tunggu aku! Malam ini, dia akan segera pergi. Datanglah dan jemput aku disini. Aku membutuhkanmu, pagi. Gantikan bulan itu menjadi mentari. Jadikan kelam ini sebuah cahaya di pagi nanti. Yaa, aku rindukan pagi.

Aku, Kamu dan Kenangan

Barangkali kini kau tak tahu siapa aku, semenjak perpisahan 3 tahun yang lalu mungkin waktu telah perlahan menghapus sedikit demi sedikit memoar kenangan yang kita rajut bersama dan mungkin pula kau kini telah banyak berubah dari segi fisik maupun sifat sebagaimana yang telah menimpaku sekarang, sehingga kini jika saja aku bertemu denganmu mungkin ku tak dapat mengenali wajah syahdumu seperti dulu.

Setitik Kenangan

Setitik kenangan datang kepada ku pagi ini. Menyapa di tengah dinginnya udara yang berhembus. Kenangan itu tak datang sendiri, namun ia membawa bayangmu bersamanya. Terasa sungguh menyenangkan, sekaligus menyakitkan begitu ingat kau tak berada di dekat ku. Setitik kenangan yang datang tak hanya bersama bayangmu, namun juga bersama kenangan yang kita bangun. Kenangan yang kita tanam di dasar, kenangan yang tak akan pernah kita bagi pada siapapun.

Hujan Penghantar Kerinduan

Malam ditemani hujan deras memilukan hati, di situ Andi terkulai di pojokan kamar menatap kosong jendela basah yang dihantam hujan. Sesekali guntur menyapa, raut mukanya pucat, lesu, lunglai tak bergairah. Hanya sebuah lilin kecil dengan cahaya kuning redup yang saat itu menemaninya. Andi tengah sakit akibat seminggu ini dikejar dengan tugas skripsinya yang harus segera ia selesaikan, ia kurang tidur, sehingga warna coklat pudar tapak jelas di bawah mata mungil Andi. Kini ia tak berdaya, hanya bisa berkata juga mengedipkan kelopak mata sebagai tanda ia masih ada.

Kenangan itu, Aku dan Kamu

Barangkali kini kau tak tahu siapa aku, semenjak perpisahan 3 tahun yang lalu mungkin waktu telah perlahan menghapus sedikit demi sedikit memoar kenangan yang kita rajut bersama dan mungkin pula kau kini telah banyak berubah dari segi fisik maupun sifat sebagaimana yang telah menimpaku sekarang, sehingga kini jika saja aku bertemu denganmu mungkin ku tak dapat mengenali wajah syahdumu seperti dulu.

Break Even

“And when heart breaks no it don’t break even
What am I suppose to do when the best part me always you?
What am I suppose to say when I’m all chocked up and you’re ok?
I’m falling to pieces”