Lewatlah
Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para
tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan.
Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan
menapak tulus lewati Jembatan Keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu
melingkar putar menghindar jalan-jalan buruk jika tabah melintas Jembatan
Keledai.
Tersebutlah
kisah pada suatu lampau tentang Saudagar Kitab yang pulang hijrah dari Negeri
Beradab. Saudagar Kitab itu bergirang hati karena banyak kitab edisi baru yang
dibawa pulang. Terbayang di benaknya lembar-lembar untung yang bakal diraupnya
dari penghuni kampung yang haus akan kitab. Ratusan kitab itu diangkut di atas
punggung dua ekor keledai jantan. Kedua keledai itu saling bangga berbangga
karena kitab-kitab yang ada di atas punggungnyalah yang paling bernas hebat
manfaat isinya. Angkuh takabur para keledai terpancar dalam saing bersaing
derap langkah melangkah gontai akan lelah perjalanan yang digagah-gagahkan.
Keledai-keledai itu berperang angan, bahwa kandungan kitab-kitab itu sudah jadi
milik mereka, merasuk masuk seutuhnya ke batok otak mereka. Maka, semakin
bangga dan kian tegaplah langkah para keledai itu lanjutkan sisa jalan pulang.
Sang Saudagar
dan para keledai larut dalam kalut kemelut angan indah menawan. Laba melimpah
ruah dan nikmat khasiat ilmu kandungan kitab telah melenakan Saudagar Kitab dan
para keledai dari ranjau sebuah lubang hitam galian saluran air buangan yang
menganga di tengah jalan. Saudagar Kitab dan kedua keledai itu sama-sama
tersuruk ke dalam lubang. Kitab-kitab semua berhamburan, porak poranda di dalam
lubang. Mereka sama-sama terperanjat, lalu seketika tersadar. Ternyata laba
melimpah dan nikmat khasiat ilmu kitab belum jadi milik mereka. Di saat itu
juga mereka saling menyalahkan. Saudagar Kitab menyalahkan limpahan laba,
impian keledai dan alur jalan pulang yang buruk. Lalu, para keledai menyalahkan
loba serakah Saudagar Kitab, lelah langkah dan plagiat sesat isi seluruh kitab.
Tiga purnama
terlewatkan sudah. Mereka masih meringkuk dalam lubang hitam yang melintang di
tengah jalan buruk itu, sambil terus saja saling mencerca sesamanya. Ketika
lelah sempurna nyatakan kalah, Saudagar Kitab dan kedua keledai itu bersama-sama
merayap keluar dari pasungan lubang hitam. Segera saja perjanjian damai
keduanya terjanjikan. Sebuah kesepakatan disepakatkan sebagai bukti janji damai
itu, yaitu merentangkan sebuah jembatan agar lubang hitam itu tak lagi jadi
penghalang, agar keledai-keledai tak lagi bodoh dan tersuruk ke lubang-lubang
yang sama. Saudagar Kitab bermurah hati untuk menabalkan jembatan itu dengan
nama Jembatan Keledai. Para keledai bersenang hati saja menyambut anugerah lucu
itu.
Sesejatinya saja
bahwa Jembatan Keledai itu sangatlah sederhana. Sebilah papan diletakkan
melintang di atas sedepa lubang hitam yang menghadang badan jalan yang
sedikit buruk. Begitu dan segitu saja. Maka, jadilah jembatan itu. Dan itulah
dia Jembatan Keledai!
Tetapi sayang
sungguh disayang, di zaman ini Jembatan Keledai itu terbengkalai dan
terabaikan. Orang-orang kampung tak kenal lagi Jembatan Keledai. Kalaupun
kenal, mereka acuh saja jika ada Jembatan Keledai. Mereka enggan memakai
Jembatan Keledai. Mereka kini telah beralih ke lain-lain jenis jembatan. Ada
yang lebih suka menyeberangkan diri dengan Jembatan Emas, walaupun harga tebus
emas kian hari kian melambung. Ada juga yang suka lewati Jembatan Layang, yang
suka tak suka telah melayang-layangkan harapan dan impiannya hingga tak berjejak
dan tak tahu lagi dimana akan menjejak. Dan yang lebih celaka, sebagian besar
warga kampung yang pupuskan celaka-celakanya di Jembatan Gantung. Dikiranya
Jembatan Gantung itu rela, sanggup dan mampu memungkaskan segala kemelut hidup
mereka dengan buai-buaian yang mengayun-ayunkan pilunya dalam cengkram gantung
jembatan yang sengaja digantung-gantungkan. Celaka, sungguh celaka…
Wahai, seandainya mereka
lewati Jembatan Keledai….
Sementara di pinggir kampung,
sebuah Jembatan Keledai sepi melapuk sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar