Tepat 200 tahun
lalu, Tambora marah besar. Amarahnya secara langsung dan tidak langsung
menewaskan 88.000 orang. Tiga kerajaan tamat riwayatnya, Napoleon kalah perang,
tahun tanpa musim panas terjadi, dan kelaparan serta wabah melanda dunia.
Bagaimana
sesungguhnya bencana itu terjadi? Tak banyak dokumen yang bisa menjadi rujukan
untuk menceritakannya. Tiga dokumen berharga antara lain The History of
Java (1817) dari Raffles, gubernur Inggris penguasa Jawa saat Tambora
meletus, memoir Raffles (1830), dan Asiatic Journal volume 1 (1816).
Menurut dokumen
itu, Tambora sebenarnya sudah mulai aktif tahun 1812, sering mengeluarkan asap
hitam. Namun, banyak orang yang menganggap bahwa Tambora kala itu sudah
"punah" atau bukan gunung berapi aktif.
Erupsi besar
pertama dimulai pada 5 April 1815, berlangsung selama 2 jam. Merujuk pada
dokumen Raffles dan Asiatic Journal, Richard B Stothers dalam makalahnya di
jurnal Science 15 Juni 1984 mengatakan, gemuruh aktivitas Tambora
pada tanggal itu terdengar hingga kota Makassar (berjarak 380 km), Jakarta
(1260 km), dan bahkan Maluku (1400 km).
Dalam memoirnya,
Raffles menceritakan, "Gemuruh itu awalnya dikaitkan dengan adanya meriam
pada jarak jauh, sedemikian sehingga tentara dibariskan di Yogyakarta untuk mengantisipasi
serangan pihak lain dan kapal juga dibariskan di pantai mewaspadai kondisi
sulit."
Raffles seperti
dikutip Clive Oppenheimer dalam makalahnya di jurnal Progress in Physical
Geology pada 2003 melanjutkan, "Namum pada pagi hari berikutnya, abu
tipis menghapus semua keraguan, dan seiring erupsi terus terjadi, suara
terdengar begitu dekat, terdengar begitu dekat di setiap daerah sehingga
dikaitkan dengan letusan gunung Merapi, Kelut, dan Bromo."
Orang yang
tinggal di wilayah sekitar Tambora meminta pemerintah di Bima untuk melihat
situasi. Pihak berwenang kemudian mengirim seseorang bernama Israel, tiba di
sekitar Tambora pada 9 April 1815.
Tapi belum
sempat penyelidikan dimulai, tanggal 10 April 1815 sekitar pukul 19.00 WITA,
Tambora kembali mengamuk. Kali itu, erupsinya berlangsung kurang dari 3 jam
namun dengan skala lebih besar. Letusannya menurut volcanic explosivity
indexmencapai skala 7 dari 8. Hanya gunung Toba yang meletus 74.000 tahun lalu
dengan magnitudo 8 yang mengalahkannya.
Cerita terbaik
kedahsyatan letusan pada malam datang dari Letnan Owen Phillip. Dia diutus
Raffles ke Sumbawa membawa beras dan menyelidiki dampak letusan pada 5 April.
Di Dompu, dia bertemu raja Sanggar yang ajaibnya selamat dari bencana letusan,
mengungsi.
”Sekitar pukul 7
malam pada 10 April (1815), tiga kolom muncul dari puncak Gunung Tambora.
(Semuanya terlihat berasal dari kawah) Setelah naik secara terpisah ke
ketinggian, ketiga kolom bergabung secara aneh dan mengerikan," demikian
Phillips menceritakan kemudian pada Raffles.
Phillip
melanjutkan, "Dalam sekejap, seluruh bagian gunung di Sanggar tampak bagai
cairan api, melebar ke segala arah. Api dan kolom asap terus saja membumbung
hingga gelap sebab banyaknya material yang jatuh mengaburkannya sekitar pukul 8
malam."
Abu kemudian
mulai turun antara pukul 9 hingga 10 malam. Kemudian, pohon-pohon yang
tercerabut dari akarnya serta batu-batu raksasa mulai terlempar ke Sanggar
antara pukul 10 hingga 11 malam. Stothers dalam makalahnya mengatakan, kolom
erupsi mungkin musnah akibat massanya sendiri sebelum pukul 10 malam dan
kaldera terbentuk pada saat yang sama.
Awan panas lalu
turun gunung dan menerjang desa Tambora, meluluhlantakkannya. Lalu, angin ribut
terjadi di Sanggar. Angin ribut yang terjadi sekitar 1 jam itu tak mencapai
Bima yang terjarak 60 kilometer dari Tambora.
Material
vulkanik mengalir ke lautan, menyebabkan tsunami. Gelombang tsunami dengan
ketinggian 4 meter mencapai Sanggar pukul 10.00 malam. Gelombang menjalar
hingga Besuki di Jawa bagian timur, mencapai wilayah itu dengan ketinggian
sekitar 1 - 2 meter beberapa saat kemudian. Tsunami juga diperkirakan mencapai
Madura dengan ketinggian 1 meter.
"Mawar laut
setinggi hampir 12 kaki yang tak pernah terjadi sebelumnya menghantam Sanggar
yang cuma seperti sebulir padi, menghanyutkan rumah dan apapun yang ada dalam
jangkauannya," demikian cerita Phillip tentang tsunami.
Suara ledakan
mulai terdengar pukul 11 malam. Setelah itu, suara tersebut tak berhenti hingga
15 April 1815. Suara terdengar hingga Cirebon, Bengkulu, Makassar, Ternate dan
sejumlah wilayah Indonesia lainnya. Abu pun menghujani banyak kota.
Dalam The
History of Java, Raffles menceritakan penafsiran koresponden dari Gresik
tentang gemuruh dan abu. Menurut koresponden Gresik itu, banyak warga
mengaitkan gelap dan abu akibat letusan Tambora sebagai peristiwa pernikahan
Nyi Loro Kidul dengan putranya. Suara gemuruh adalah ucapan selamat dari
prajuritnya dan abu adalah ampas senjatanya.
Kota Bima
sendiri tetap gelap hingga pukul 12 siang pada 12 April 1815. Sementara di
Makassar, hingga 11 April 1815 pukul 8.00, langit tetap gelap. Pada dasarnya,
seluruh kota dalam radius 600 km terdampak oleh hujan abu dan letusan hingga
gelap 2 hari.
Udara di
sejumlah kota setelah letusan awalnya panas tetapi kemudian terasa dingin.
Hingga wilayah Jakarta, dilaporkan bahwa udara berbau nitrogen. Di Tambora
sendiri, asap masih terlihat hingga tanggal 23 April 1815. Sementara, getaran
akibat aktivitas vulkanik masih terjadi hingga 23 Agustus 1815.
Letusan Tambora
kali itu memangkas badannya sendiri. Semula berketinggian sekitar 4.300 meter,
kini Tambora hanya 2.850 meter. Letusan juga mengakibatkan terbentuknya kaldera
selebar 6 kilometer dan sedalam 600-an meter.
Begitulah
letusan dahsyat itu terjadi tepat 200 tahun lalu. Setelah berlalu, saatnya kini
mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Indonesia rawan bencana gempa dan
gunung api. Oleh karena itu, penting untuk mengenal gunung dan mewaspadainya.
Hidup di gunung yang membawa kesuburan boleh, tetapi tidak mengabaikan
risikonya.
Letusan Tambora
sendiri berdampak besar pada iklim global saat itu. Tahun tanpa musim panas
terjadi di Eropa. Gagal panen terjadi di China dan wabah melanda Amerika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar