Hujan
datang lagi. Beribu tetes jatuh setiap detiknya. Menapaki bumi sepanjang hari,
seolah tak pernah lelah dengan keadaan ini. Menerjunkan diri ke berbagai
belahan bumi. Mulai dari kubangan kerbau, resapan tanah, hingga ke muara laut,
semua dilakoni.
Di
dalam sebuah pertemuan, pada suatu pagi yang dingin.
“Aku
datang untuk mengajarkanmu bahwa hidup adalah perputaran. Kau harus percaya
itu,”
Ucap hujan kepadaku yang sedang setengah limbung.
“Aku
berpetualang sampai ke negeri manapun, lalu dapat pula kembali kesini lagi.
Karena apa? Karena aku punya harapan,” Aku berusaha mencerna kata-katanya. Kali
ini aku benar-benar ling lung.
“Mengikuti
arus Ciliwung, lalu menerjunkan diri ke Niagara, lantas juga membekukan diri di
Antartika,” Aku mulai terkesima. Sepertinya aku mulai dapat mengerti
perkataannya.
Dengan
wajah sok lugu, aku berkata “Lalu kenapa sekarang kau menjadi bah di Ibukota?
Coba jelaskan padaku dengan serta-merta!”
Ia
terdiam sebentar, lalu tertawa sejadi-jadinya. Aku diam. Tertawa pun enggan.
Apakah itu lucu? Memang perangainya aneh. Ia masih terbahak. Cukup lama.
“Kau
tahu kenapa sebabnya? Kau tahu!” Ia menggelegar seperti malaikat pencabut
nyawa. Aku ingin menarik perkataanku tadi. Bodoh! Mengapa aku menanyakan
pertanyaan retoris macam itu?
“Manusia
memanglah bodoh! Aku datang untuk menunjukkan padamu, bahwa hidupmu tak selalu
indah. Bahwa keindahan hidupmu seringkali pudar karena ulahmu sendiri!”
Aku
dikeroyok perasaan bersalah. Rasanya ingin menghilang dari hadapannya. Tapi
sayangnya belum ada teknologi teleportasi macam itu. Ah, sial!
Hujan
datang lagi. Menghanyutkan jejak-jejak kenangan. Kulihat televisi, katanya
“Banjir Mengepung Ibukota”. Kulihat koran, katanya “Air Bah Lumpuhkan Jakarta”.
Aku meneguk segelas teh panas. Melakoni lagi hidup ini, sebagai penyaksi antara
hidup yang penuh sensasi-ilusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar