Idealisme
tak akan mati selama masih ada perjuangan klas ini, selama ada kaum yang
menghisap dan menindas. Kaum hartawan yang berkuasa pada satu pihak,
mengemukakan ide, intelek, pikiran, terhadap kaum terhisap dan tertindas, pada
lain pihak ia memakai kemegahan, majiat rohani buat meninabobokan kaum pekerja,
supaya nanti mendapat nikmat, bidadari, yang matanya seperti mata burung
merpati dan kesenangan kekal akhirat.
Demikianlah
sesuai dengan perjuangan kelas, idealisme atau tak berdialektika, membentuk
dirinya supaya cocok dengan keadaan klas yang memegangnya. Dimana Kapitalisme
masih muda, kokoh karena sedang naik seperti Amerika, maka lahirlah idealisme
berupa "pragmatisme" yang dikemukakan oleh John Dewey. Filsafat
pemikir dari negara yang mempunyai "the biggest of all", semuanya
paling jempol, ini katanya berdasarkan "objective truth", hakekat yang
obyektif, yang tenang, tetapi kalau diperiksa lebih dalam, maka nyatalah bahwa
"objective truth", tadi bergantung pada paham, cita-cita dan perasaan
borjuasi Amerika "the country of the free", negara merdeka ialah buat
borjuasi amerika. John Dewey mengambil masyarkat borjuis dan paham borjuis
sebagai titik permulaan berpikir, ketika Amerika dalam kaya raya. Sekarang,
sampai sebelum perang ini kemakmuran Amerika, yang disangka akan tinggal kekal
tadi, sudah menyusuli kawannya di Eropa Barat. Krisis sudah bersimaharajalela
dan tetap.
Sekarang
buat 11.000.000 buruh, jadi buat kira-kira 33.000.000 buruh dengan anak
bininya, "obyective truth" tadi, tidaklah begitu
"obyective", tidaklah begitu tenang. Semua barang yang memberi
ketenangan buat borjuis seperti harta benda, justisi, polisi dan hak milik
turun menurun, adalah benda yang mengacaukan paham, perasaan dan penghidupan
kaum proletar Amerika sekarang.
Dimana
pergerakan buruh berpengaruh sekali seperti di Jerman sebelum perang 1914-1918,
maka dalam kalangan proletar sendiri idealisme itu tiadalah berani keluar
terang-terangan. Dalam kalangan kaum proletar sendiri masuk bermacam-macam
isme, yang diluarnya berupa materialisme, tetapi pada dasarnya terdapat
idealisme. Lenin dalam bukunya: "Empiris-Critism" dengan terang dan
jitu mengemukakan, pemisahan kaum ahli filsafat atas dua partai, seperti
pertama kali dikemukakan oleh Engels, ialah partai ahli filsafat idealis dan
partai materialis. Dengan sempurnanya Lenin membuka kedok yang dipakai oleh
Empiris-Critism, Machinisme Neo Vitalisme, dll. Dan memperlihatkan idealisme
yang sebetulnya jadi dasar filsafat mereka.
Di Rusia
usahanya Lenin dan Plechanoff, (yang dalam kalangan Marxisten di Rusia sendiri
sering saya dengar bahwa Plechanoff lebih besar dalam ilmu filsafat dari pada
Lenin), usahanya dua ahli filsafat Materialis ini akhirnya menjatuhkan
kekuasaan filsafat Idealisme di Rusia dan memaksa dia bekerja diam-diam.
Dialektis Materialisme ialah Ilmu Pemandangan Dunia, “Weltanschauung" yang
resmi, opisil di Sovyet Rusia.
Di
sebelah Barat Eropa, idealisme masih sangat berkuasa dan pada masa ini
idealisme-lah yang resmi. Idealisme Barat mendapat bentuk baru, dan pakaian
baru, ialah anarchisme palsu, dari ahli filsafat Bergson dan syndikalisme dari
Serel. Anachisme Bergson bukanlah anarchisme beraksi, seperti ilmu yang dipeluk
oleh anarchis besar, ialah Bakunin. Bergson, Spengler dan Nietsche (yang
belakang ini ialah satu filosoof krachtpatser, siapa kuat, siapa raja,
Ubermensch) inilah yang dipeluk oleh Adolf Hitler dan Nazi. Filsafat Fasisme dianjurkan
oleh pemikir Geovani Gentile.
"Facisme",
kata pemikir ini "bukanlah New System, tata filsafat yang baru, melainkan
aksi-baru dan paham-baru". "Manusia" katanya pada hakekatnya
beragama. Manusia dan Tuhan selalu dalam "ewige Bewegung der Selbstverwirklichung",
pergerakan kekal buat berpaduan.
Sedikit
kita selidiki, filsafat partai fasis, yang sebetulnya pertama sekali menaikkan
bendera reaksi di Eropa Barat, apabila partai Bojuis liberal kacau, partai
Sosialis maju-mundur dan partai Komunis sebagian tak berpengalaman, tetapi
terutama juga "sangsi" sebab negara Italia, kalau dikomuniskan
gampang dikepung dan dijauhkan oleh Kapitalisme Eropa Barat dan Amerika.
Fasisme
kata Geovani Gentile, bukan tata filsafat baru memang tidak, kalau dipandang
dari kaca-mata idealisme. "aksi-baru dan paham-baru" katanya pula.
Aksi kaum tengah dan paham kaum tengah terhadap proletar dengan pertolongan
kapitalis, memang baru dalam perjuangan proletar – kapitalis model baru. Tetapi
kalau kita baca Marx dalam buku "18th Brumaire of Louise Bonaparte",
tentang aksi dan paham Louise Bonaparte di Perancis, maka aksi dan paham
Facisme Italia tadi cuma bentuk baru dari aksi dan paham tua. Mussolini, bapak
fasisme juga amat tertarik oleh Napoleon Besar "ommpya" dari Louse
Bonaparte sampai ia mentonilkan Napoleon, yang katanya orang Italia itu.
Bahwa
manusia dalam batinnya beragama, ini dibatalkan oleh beberapa penyelidikan yang
tenang, yang membuktikan beberapa bangsa di dunia tak mengetahui agama.
Akhirnya kalau kita baca "pergerakan kekal buat perpaduan manusia dan
Tuhan" menurut filsafat fasis itu, kita ditarik lagi ke negara
Kapilawastu, ke kaki gunung Himalaya; mengagumkan percobaan Gautama Budha,
mempersatukan rohnya dengan roh Alam buat masuk ke Nirwana. Cuma Gautama Budha
tak seperti Mussolini memakai tongkat dan "kastor-olie" buat
mematahkan semangat dan paham musuhnya Mateotti, pemimpin sosialis Italia,
musuh besar Mussolini yang hilang lenyap selama-lamanya buat melakukan
"paduan dengan Tuhan itu" dengan lekas.
Perjuangan
klas tertutup dan terbuka. Inilah arti filsafat yang sebenarnya dari arti
Dialektika yang sebetulnya. Ia boleh melayang tinggi seperti Hegelis dan
tinggal di tanah, di perut, seperti dialektis materialisme (orang mesti makan
dahulu sebelum berpikir, kata Engels), tetapi filsafat itu adalah bayangan
masyarakat yang bertentangan, bukan bayangan Absolute Idee seperti kata Hegel.
Pada
permulaan, filsafat itu timbul pokok, yang jadi persoalan, ialah "semua
ini". Ahli filsafat bertanya: "semuanya ini, bumi, langit dan pikiran
itu sendiri, apakah artinya?" Lama-lama persoalan "semua ini"
cerai-berai. Bumi dan langit sudah jatuh menjadi ilmu Bintang, yang sesudah
Galilei, Copernicus, Newton, Einsten dll. Mendapat undang yang sementara boleh
dikatakan sempurna.
Bumi kita
ini jatuh kepada Ilmu Bumi, Geography dan Ilmu Tanah, Geology, yang sendirinya
mempunyai daerah dan mempunyai undang pula. Perkara yang berhubungan dengan Zat
dan Kodrat, jatuh pada Ilmu Alam. Perkara yang berhubungan dengan berpaduan
beberapa zat, sehingga mendapatkan sifat baru, termasuk pada Ilmu Kimia. Ilmu
Alam yang mulanya memeluk Ilmu Kimia, sekarang menceraikan dirinya dari Ilmu
Listrik, yang sekarang karena besar daerahnya dan dalam artinya mesti
dipelajari sendirinya.
Pemeriksaan
atas tumbuhan jatuh pada Ilmu Tumbuhan, dan pemeriksaan atas hewan dan manusia
jatuh pada Ilmu Hewan dan Ilmu Manusia. Ilmu Hidupnya asal dan penjelmaannya
Tumbuhan, Hewan dan Manusia, jatuh pula pada Biology, satu Ilmu yang boleh
dikatakan muda, dan banyak sekali mengandung arti buat kita. Umpamanya perkara
evolusi atau pertumbuhan otak dan Pikiran dari otak binatang sampai ke otak
manusia.
Sudahlah
tentu satu Ilmu dengan yang lain, ada seluk beluk dan perhubungannya, Ilmu Alam
dan Ilmu Kimia, mesti diketahui ahli yang mempelajari Ilmu Kedokteran. Begitu
pula agriculture, Ilmu Pertanian tak bisa berpisah dari Ilmu Alam dan Ilmu
Kimia tadi. Demikianlah pula seorang Insinyur, jatuh dan berdiri dengan Ilmu
Alam dan Matematika.
Syahdan,
maka masing-masing Ilmu di atas tadi, disebabkan kemajuan pergaulan kita,
kemajuan industri, perniagaan dan pesawat terpaksa dipecah-pecah lagi, terpaksa
di-"specialiceer" lagi, terpaksa dipencilkan dan diistimewakan lagi.
Dengan begitu perkara yang tiada berkenaan bisa disingkirkan dan waktu itu
boleh dipakai buat memeriksa dan memperdalam perkara yang diistimewakan itu.
Ilmu Kedokteran sudah pecah menjadi kedokteran umum, perkara gigi, telinga,
mata, kanak-kanak dsb. Adalah bahaya buat Science, kalau pecah-pecahan itu
(pada Ilmu yang sudah banyak itu) akan pecah terus, dengan tidak lagi
mengetahui perhubungan satu Ilmu dengan Ilmu yang lain.
Bahaya
itu kebetulan sudah diketahui dan amat dipelajari muslihat buat menjauhkannya.
Kalau saya tak salah, maka perkataan filsafat sekarang diterjemahkan juga buat
menggambarkan daya upaya mempersatukan Ilmu bermacam-macam itu, jadi buat
memeriksa seluk beluk dan perhubungannya. Dengan begitu, maka si Scientist, si
Ahli mungkin kehilangan hutan, karena sangat memperhatikan pohon-pohon saja.
Lupa
garis besar, karena senantiasa memperhatikan garis yang kecil-kecil saja. Daya
upaya semacam inilah sekarang yang sering diartikan oleh perkataan filsafat.
Bukan lagi sikap yang diambil oleh ahli filsafat purbakala, yang dengan
memangku tangan dan tafakur, bertanyakan: "Apakah artinya Alam dan apakah
artinya pikiran itu?" Demikianlah kalau kita peramati kemajuan Ilmu
Filsafat tadi, maka kita lihat pada Zaman Tengah tahun 478-1492 si pencari
Hakekat dilekati oleh Ketuhanan. Kaum Scolastic, namanya di Eropa Barat tak bisa
mencari hakekat itu, kalau persoalan itu tiada digarami, dilimaui (dijeruki)
dan dimasak dengan God dan agama ialah agama Nasrani. Sesudah itu, pada zaman
borjuis filsafat tadi sudah susut pada persoalan "Jasmani dan
Rohani", badan dan pikiran. Sudah lama pula filsafat ini jatuh ke tangan
psychology, Ilmu jiwa, Ilmu yang memeriksa "the working of the mind"
kerjanya otak. Ilmu ini tidak lagi direnungkan oleh si pemikir di atas kursi
malas dalam otaknya saja, melainkan sudah dimasukkan ke laboratorium. Disinilah
otak binatang dan manusia dipisah, diperiksa, diexperimentkan, diperalamkan.
Disinilah instinct, yakni pikiran hewan, perasaan, kemauan hewan dan kecakapan
hewan dalam belajar, diperiksa, diperalamkan, diuji dan dibandingkan dengan
akal, perasaan dan kemauan manusia. Experimentalis William James dan Thorndyke
di Amerika, Pavlov di Rusia dan experimentalis yang lain, banyak mengumpulkan
pengalaman yang berharga dan masih banyak persoalan yang mesti diperalamkan dan
diuji oleh Ilmu yang muda tetapi sangat menarik hati. "Ketahuilah dirimu
sendiri “. Inilah sari persoalan dari seorang ahli filsafat Yunani yang
terkenal ialah Socrates.
Sekarang
persoalan ini sudah menjelma menjadi pemeriksaan atas "the working of the
mind", kerjanya otak, yang sudah dimasukkan ke laboratorium bersama dengan
Ilmu lain-lain yang berdasarkan experiment, pengalaman.
Filsafat
bertukar, artinya bertukar rupanya dan pecah belah menjadi beberapa ilmu yang
berdasarkan experiment.
Engels
sudah mendapat kesimpulan, bahwa sisanya filsafat ialah Dialektika dan Logika.
Semua cabangnya yang lain jatuh pada bermacam-macam Ilmu Alam dan sejarah,
ialah sejarah masyarakat Indonesia.
Marx
memandang dari sudut pertarungan klas, berkata dalam 11 thesis : Die
Phylosophen haben die Welt nur verschienden interpretiert. Es komt aber
daraufan die Welt zu veraendern. Para ahli filsafat sudah memberi
bermacam-macam pemandangan tentang dunia itu. Yang perlu ialah menukar
(merubah) dunia itu! (Sumber : Madilog-Tan Malaka)
~Selesai
Artikel sebelumnya baca DISINI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar