Emmanuel
Kant ahli filsafat Jerman kesohor itu, mengangkat naik kembali bendera Hume,
tetapi tidak dengan konsekwensi Hume. Kant tidak berjalan terus jujur seperti
Hume, tetapi maju mundur. Seperti kata Lenin, filsafat Kant tidak boleh dipakai
buat berkelahi, bukan filsafat berkelahi. Menurut Kant, kita bisa ketahui
dengan pancaindera kita sesuatu benda, tetapi "Ding an Sich" benda
sendirinya, kita tidak bisa ketahui.
"Kalau
sudah kita ketahui sesuatu barang dengan pancaindera apa juga lagi yang mesti
kita ketahui tentang barang itu“ begitulah kaum materialis bertanya. Buat kaum
materialis hal itu sudah cukup. Tetapi buat Kant itu belum cukup. Ia tak
sepenuhnya memihak pada Hume dan bilang terus terang, bahwa benda itu buat dia
tak ada, yang ada cuma gambaran dalam otaknya. Tetapi ia cari rumput buat
sembunyi dengan memakai "Ding an Sich" benda itu sendiri.
Jawab
Engles dalam hal ini, pendek dan jitu. Kata Engels: dari hari ke sehari
"Ding an Sich" itu, sudah menjadi "Ding an Furuns". Benda
yang sendirinya itu tidak diketahui, dari sehari ke sehari sudah menjadi
"benda kita". Keterangan Engels tentang "Ding Fur Uns" itu
dulu banyak saya cari tapi tak berjumpa. Tetapi menurut pikiran saya, jawab
Engels yang pendek ini mesti diterjemahkan sebagai berikut:
"Air"
umpamanya, yang dahulu kala dianggap oleh nenek moyang kita seperti suatu
barang yang ajaib, sekarang kita sudah ketahui "zat asalnya", ialah
Hydrogen dan oxygen. Sudah diketahui, menurut undang mana dia berpadu, ialah
menurut Undang Dalton. Apa rasanya air itu kalau diraba atau diminum. Berapa
beratnya 1 L. Apa gunanya buat kita, buat tumbuhan dan hewan. Bagaimana
sifatnya, dsb. Apa juga lagi yang mesti di "Ding an Sich"kan tentang
air, nenek moyang kita cuma mengetahui 4 zat saja di alam ini ialah :tanah,
air, api, udara. Sekarang sudah diketahui 92 zat asli, elementen. Yang
diketahui sudah boleh kita periksa dengan pancaindera kita, dengan perkakas
yang kita bikin, seperti microoskop, telescoop dan teropong, perkakas yang bisa
membesarkan kuman, beratus ribu kali dan mendekatkan bintang beratus ribu kali.
Perkakas yang dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, bisa ditambah
kepastiannya dan kejituannya. Semua zat yang kita ketahui itu boleh kita pada
satu sama lainnya, kita buat makanan dan kesehatan kita, kita pakai kodratnya
buat kehidupan dan kesenangan kita. Kaum penakluk memakai buat menerpedo dan
membom. Yang belum kita ketahui, sedang kita cari dengan giat dan dengan lebih
besar pengharapan mendapatkannya karena teori, cara berpikir dan perkakas kita
makin banyak, makin baik.
Dimana
lagi "Ding an Sich" itu tempatnya, pada zaman, di mana alam yang
dahulu kala, dianggap gaib itu, sebagian besar sudah diketahui dan dikontrole,
dikemudikan dipakai menjadi "Sing fur Uns", yakni benda kita, seperti
kata Engels tadi. Idealis yang lebih licin, karena ia memakai Dialektika dan
Logika dengan cara dan bahasa yang tiada ada bandingnya selama ini, ialah
Hegel. Lama Marx, walaupun ia sudah Marxis, sesudah meninggalkan gurunya,
Hegel, dilekati Hegelisme. Dengan
dua sayap thesis di kanan, anti thesis di kiri dan badan synthesis di tengah,
Hegel terbang makin lama makin tinggi sampai silau mata si pemandang.
Buat Hegel "absolute Idee" ialah, yang membikin benda "Realitat".
"Die absolute Idee macht die Gesichte" absolute idee yang membikin
sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin
sejarah, katanya, melainkan Absolute Idee "deren nachdrucklichen Ausdruck,
die Philosophie ist" yang tergambar nyata pada filsafat. Jadi menurut
Hegel, sejarah ialah sejarah dunia dan masyarakat dibikin Absolute Idee, dan
hal ini tergambar pada filsafat. Pada lain tempat Hegel mengatakan, bahwa
Negara dan Saat ialah "verwieklichung" penjelmaan, absolute idee itu.
Absolute Idee itu sama dengan Metaphysik, Idee sendirinya, idee yang tak
dibikin, yang tunggal tak jatuh pada undang sebab dan akibat, hidup dan mati,
tak melahirkan atau dilahirkan, tak takluk pada tempo dan tempat, melainkan
tunggal, terkuasa dan sempurna. Absolute Idee itu tergambar jitu dan pasti pada
filsafat. Absolute Idee akhirnya sama dengan metaphysik, yakni gaib di luar
Ilmu Alam, rohani, Ammon kata Egypte purbakala, Dewa Rah.
Rohani
inilah yang dicari oleh mystikus, murid tarekat Hindu, kalau ia memandang
puncak hidungnya saja, menyebut omm, omm, omm, lepas dari semua yang lahir,
pikiran pada perempuan, pada badannya sendiri, lepas dari makanan, ya, lepas
dari suaranya sendiri, omm, omm, omm tadi. Kalau beruntung seperti Gautama
Budha, maka leburlah Rohani, Jiwanya dengan Rohani yang mengisi Alam ini.
Feurbach,
materialis besar, yang dianggap jembatan antara Hegel dan Marx, mula-mula
memakai Dialektika juga. Buah pikirannya ketika itu banyak memberi alat
pelajaran pada Marx dan Engles. Tetapi setelah Feurbach melemparkan Dialektika
sebagian besar disebabkan hidup terpencil, seolah-olah terbuang dari pergaulan,
maka hasil pemeriksaannya jauh terbelakang dari Hegel. Hegel dianggap oleh kaum
materialis sebagai ujung filsafat yang negatif, yakni ujung yang membatalkan,
ujung yang buntu. Feurbach dianggap sebagai ujung yang positif, yakni pembuka
jalan yang baru ke jalan Dialektis Materialistis. Kaum Marxis sepenuh-penuhnya
mengakui kemanjuran senjata Dialektika, tetapi membuang Idealisme Hegel.
Marx, sesudah
beberapa lama dikagumi dan dipengaruhi Hegel, (sebagai pelajar ia bisa hapalkan
pasal-pasal yang penting dari Hegelisme), akhirnya memasang Hegelisme di atas
kakinya. Hegelisme yang selama ini dianggap berkepala di kaki dan berkaki di
kepala, dibalikkan sebagai mana mestinya. Bukan pikiran yang menentukan
pergaulan, melainkan pergaulan yang menentukan pikiran.
"Negara
kata", kata Marx "ialah satu akuan dan hasil dari perjuangan
klas". Perjuangan klaslah yang menjadi "Motive-Force", kodrat
pergerakan sejarah masyarakat, kodrat mengubah bentuk Negara, jadi bukanlah
"Absolute Idee", seperti kata Hegel. Zaman berbudak bertukar menjadi
Zaman Feodal, Zaman Ningrat. Zaman Feodal itu sesudah Revolusi Perancis pada
tahun 1789 bertukar menjadi Zaman-Kuno dalam pandangan sekarang. Dialektika,
yakni pertentangan yang berlaku pada zaman Berbudak, ialah pertentangan budak
dan tuan. Pada zaman feodal, pertentangan Ningrat dan Tani, pertentangan
pemimpin gilde dengan anggota gilde. Pada zaman Kapitalisme sekarang pertentangan
buruh dan kaum modal. Pertentangan klas yang berdasar atas pertentangan ekonomi
itulah yang menjadi kodrat buat menumpu masyarakat pada satu bentuk ke bentuk
yang lain, dari satu tingkat ke tingkat yang lain. Dari masyarakat berdasarkan
perbudakan ke masyarakat berdasar keningratan, ke masyarakat berdasar
kemodalan. Jadi pertentangan itu bukan pertentangan ide saja, seperti menurut
paham Hegel – nanti akan diteruskan – tetapi pertentangan barang yang nyata,
pertentangan antara dua klas besar yang berjuang, yang sekarang terus berjuang.
Pertentangan
klas, ialah klas manusia, ialah barang yang nyata itu, berdasar atas
pertentangan ekonomi yang dipertajam oleh kemajuan tehnik. Tehnik yakni
perkakas yang dipakai dalam pergaulan, perkakas yang pada zaman ini dimiliki
oleh kaum berkuasa dan kaum berpunya, menjadi alat adanya perjuangan klas itu.
Semua perkakas dan klas manusia, yang menjalankan peranan dalam sejarah kita
manusia ini adalah barang yang nyata semuanya. Peranan sejarah itu, tiadalah
dibikin dan dikemudikan oleh Absolute Idee itu, sebagaimana juga sejarah
tumbuhan-hewan-manusia, bumi dan binatang tidak dikemudikan oleh Dewa
Rah, Rohani, Ahimsa dsb.
Sebagaimana
bumi dan bintang berjalan, bersejarah, menurut undang tarik menarik yang
didapat oleh Newton, sebagaimana tumbuhan-hewan dan manusia bersejarah menurut
undang-evolusinya Darwin, beginilah sejarahnya masyarakat manusia bersejarah
menurut undangnya Historisch-Materialisme (Sejarah Materialisme), yang juga
dinamai Dialektika Materialisme.
Dengan
lahirnya Marxisme, maka Hegelisme berbelah dua: Dialektika Idealistis dan
Dialektika Materialistis. Yang pertama dipegang oleh kaum yang bermodal dan
berkuasa dengan pengikutnya, yang kedua, oleh kaum proletar yang revolusioner.
Di antara dua filsafat bertentangan tadi, sudah tentu ada bermacam-macam
filsafat bukan buat bertarung. Hegelisme yang memang revolusioner terhadap kaum
Ningrat Jerman, tetapi kontra revolusioner terhadap kaum Proletar, sudah tentu
baik buat tempat berlindungnya kaum reaksioner seperti kata Marx: "Dalam
bentuknya yang reaksioner, Hegelisme menjadi adat, sebab bentuk ini
menerjemahkan keadaan yang ada".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar