Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan
Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi
wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa
duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah
Thariqah
Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya,
merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga
tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit
Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah
menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).
Yang membuat banyak kalangan nahdliyin semakin hormat kepada
sosok ini adalah kesediaannya untuk tetap mengaji kepada kiai, dengan cara
antri sebagaimana santri kebanyakan, meskipun beliau sendiri sudah memimpin
pesantren dan diangkat sebagai Mursyid Tarekat. Keaktifannya di NU tidak
menghalangi sosok ini untuk akrab kepada semua pihak dari beragam latar
belakang.
Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan
yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai. Ketika berbicara
dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud
sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki
berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.
Menjadi
Mursyid Usia 19 tahun
Mbah Salman adalah anak laki-laki tertua dari KH M Mukri bin KH
Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari KH M Manshur, pendiri
pesantren Al Manshur. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad
Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar
Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.
Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman muda memang dipersiapkan
oleh sang kakek, KH M Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur
sebagai wali, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus
mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.
Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang
wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing
tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuda lain seusianya tengah menikmati puncak masa
remajanya, Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus
mursyid.
Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman
nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang
lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang
diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya
sendiri, KH M Mukri.
Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di
Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan
Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,Seiring dengan
perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami
perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan
bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah
Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang
terakhir TK Al-Manshur (1980).
Popongan
Setelah Kepergiannya
Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai
Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh
pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik
Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi
suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah
inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.
Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian :
pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh
orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan
pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya.
Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri
putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan
pada bulan-bulan tertentu.
Sampai hari-hari terakhir menjelang masuk ke rumah sakit beliau
tetap mengajar, meskipun santri yang ada di hadapan beliau hanya satu orang.
Demikianlah sosok yang di dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah karya Martin van Bruinessen, termasuk
tokoh tarekat yang disebut dalam mata rantai KH M Manshur dari KH Muhammad Hadi
Girikusumo, Mranggen, Demak ini, dia tidak membedakan sedikit banyaknya santri
yang belajar.
Santri mukim yang belajar kepada kiai sepuh ini jumlahnya
ratusan orang setiap angkatan. Dan jika dihitung sudah mencapai lebih dari 100
ribu orang yang pernah nyantri kepada Almarhum.
Almarhum meninggalkan seorang isteri, Hj Siti Aliyah dan delapan
anak, yaitu Musta’anatussaniyah, Umi Muktamirah, Munifatul Barroh, Murtafiah
Mubarokah, Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Miftahul Hasan, Multazam Al-Makki,
dan Marzuqoh Maliya Silmi. Yang tidak menyertai suami di luar Klaten juga
membantu mengasuh di pesantren yang Almarhum pimpin. Para menantunya juga
mengasuh pesantren di Krapyak Yogyakarta (KHM Najib Abdul Qodir); Al-Ishlah
Kediri (KH Zubaduz Zaman), Al-Muayad Windan (KHM Dian Nafi’)
(Sumber: NU Online)
(Sumber: NU Online)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar