Setitik kenangan datang kepada ku pagi ini. Menyapa di tengah
dinginnya udara yang berhembus. Kenangan itu tak datang sendiri, namun ia
membawa bayangmu bersamanya. Terasa sungguh menyenangkan, sekaligus menyakitkan
begitu ingat kau tak berada di dekat ku. Setitik kenangan yang datang tak hanya
bersama bayangmu, namun juga bersama kenangan yang kita bangun. Kenangan yang
kita tanam di dasar, kenangan yang tak akan pernah kita bagi pada siapapun.
Setitik kenangan itu perlahan melebar. Menjadi terang dan jelas
seperti ketika kau membuka mata dari tidurmu. Hanya saja yang kau lihat
bukanlah sebuah kenyataan, setidaknya kenyataan saat kini. Setitik kenangan
yang menjelma menjadi nostalgia.
Menjelajahi kenanganku sendiri bagaikan membuka lembaran buku
yang sudah uzur. Semakin aku membukanya dengan kasar, lembaran itu semakin
rapuh dan hancur. Tapi apa daya, aku terlalu bersemangat untuk mengingat kali
pertama kita bertemu.
Kau datang bagaikan kepakan sayap kupu-kupu. Tak ada rasa, tak
ada hentakan, tak ada gelora. Aku bahkan sama sekali tak memberikan sedikitpun
perhatian padamu. Namun layaknya kepakan sayap kupu-kupu, kamu malah membuatku
terjebak dalam badai, lama setelah kedatanganmu.
Aku selalu menghubungkanmu dengan sebuah rasa. Rasa hangat yang
ku dapat ketika badanku bermandikan sinar matahari, namun aku sedang berada di
dalam ruangan dengan penyejuk udara. Rasa hangat namun dingin yang begitu aku
candui.
Berbagai pertanyaan selalu memenuhi benakku, dan semuanya
berawal dari satu kata yaitu ‘jika’.
Bagaimana jika kamu lebih dulu bertemu dengan orang lain?
Bagaimana jika aku tidak berada di kelas yang sama denganmu?
Bagaimana jika aku tidak menunggumu di bawah hujan, berharap
kamu akan datang bagaikan atap di bawah kelabu?
Alam semesta selalu punya caranya sendiri untuk berjalan.
Sedangkan kita hanya bisa mengikuti jalannya alam semesta. Konspirasi picisan
yang membuat aku terjebak bersamamu, menjalin sebuah benang yang tebal namun
rapuh.
Kita bisa selalu bersama, namun kita tak akan bisa bersatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar