Malam ditemani hujan deras memilukan hati, di situ Andi terkulai
di pojokan kamar menatap kosong jendela basah yang dihantam hujan. Sesekali
guntur menyapa, raut mukanya pucat, lesu, lunglai tak bergairah. Hanya sebuah
lilin kecil dengan cahaya kuning redup yang saat itu menemaninya. Andi tengah
sakit akibat seminggu ini dikejar dengan tugas skripsinya yang harus segera ia
selesaikan, ia kurang tidur, sehingga warna coklat pudar tapak jelas di bawah
mata mungil Andi. Kini ia tak berdaya, hanya bisa berkata juga mengedipkan
kelopak mata sebagai tanda ia masih ada.
Tak terasa hujan begitu indah mengirimkan pesan kerinduan
tentang kekasihnya, Ana.
Jemari-jemari lemah Andi tak sadar menari nari di atas keypad Handphone
silvernya, jemari itu menulis nomer hp kekasihnya, dengan tubuh yang gemetar
kedinginan ia menunggu suara muncul dari hp nya.
“Ana... Ana...” ia melafalkan dengan lidah begitu lemah disertai
getaran tubuh ringkihnya, tapi apa mau dikata tak ada suara yang biasa ia
dengar menyahutinya.
Rindu yang dikirimkan hujan begitu pilu.. begitu menyayat
hatinya
Kerinduan Andi bertambah saat film-film lama yang indah antara
mereka berdua berputar bergantian dan beriringan. Ia seakan teringat waktu
hujan di sore hari mengguyur dirinya dan kekasihya kala itu.
“Dingin
juga ya ternyata ndi..”
“Iya
sih lumayan, tenang ya mudah mudahan ini hujan nggak lama-lama ada di sini”
Andi pun segera memakaikan jaket tebal berwarna hijau tua
miliknya ke pundak Ana yang dilihatnya dari tadi menggigil kedinginan.
“Udah kamu aja yang pakai, aku nggak papa kok ndi”
“Nggak apa-apa kok, biar kamu nggak kedinginan Ana, aku sudah
biasa kayak gini.”
“Beneran, kamu nggak apa-apa?”
“Iya, kan aku nggak mau kamu sakit”
Ana tak sedikit pun mengeluarkan kata kata dari mulut mungilnya,
hanya menatap dengan tajam mata kekasihnya itu. Kedua pasang mata mereka saring
bertatapan, mata Ana yang penuh keteduhan dan ketenangan membuat jantung Andi
berdetak tak beraturan, mereka hanya terdiam menikmati itu semua. Begitu sunyi,
dengan dihiasi alunan rintik-rintik hujan dibarengi suara gemuruh dari awan
hitam. Mungkin saat itu bukan lagi mulut yang berbicara namun sepasang mata
dengan bahasa-bahasa cinta yang tak bisa diterjemahkan dengan untaian kata
kata.
“Maaf ya Na, gara-gara aku kelupaan bawa jas hujan kamu jadi
kaya gini deh”
“iya nggak papa, aku juga yang salah nggak ngingetin kamu buat
ngecek jas hujan di jok sepeda motor kamu”
“Maaf ya Na, kamu jadi basah gini gara-gara kehujanan, kalo kamu
sakit gimana?”
“Udah nggak papa kok ndi, lagian biar hujan punya cerita tentang
kita berdua” jawab Ana dengan tersenyum manis.
Andi juga tersenyum manis menanggapi sentuman kekasihnya
tersebut.
“Aku beruntung mempunyai kekasih sepertimu Ana, selain cantik,
kau bisa menerima kekuranganku dengan apa adanya, dirimu sungguh pengertian,
sabar, juga bijaksana. Ku berdoa pada tuhan semoga kita berdua dipersatukan
dalam sebuah ikatan pernikahan. Amiin” Kata Andi dalam hati penuh harap.
Tak disangka tetes mata menghujam deras di pipi merahnya. Andi
mengalihkan perhatian matanya ke jendela di ujung kamarnya, jendela yang basah
karena terbelai tetes-tetes air hujan yang kini mulai reda, suara gemuruh
halilintar yang memekakan telinga lambat laun juga mulai hilang dari
pendengaran.
Hujan rupanya telah sukses mengantarkan pesan kerinduan antara
dia dan kekasihnya, yang membuat ia teringat akan manisnya belaian cinta kasih
seorang wanita.
Andi sontak berkata, “Ana.. Bagaimana bentuk syurga itu? indah
bukan? do’a ku membelaimu selalu dalam tidur panjangmu.”
“Terimakasih tuhan kau telah ijinkan Ana mengisi siluet indah
dalam kanvas kehidupanku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar