SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA, MEDIA EKSPRESI DAN BERBAGI...

Sepotong Masa Lalu

Hari ini suasana di jalanan kota terasa begitu asri. Setiap hari aku melalui jalanan ini. Jalanan trotoar yang sudah menjadi pijakan langkah kakiku selama 2 bulan lebih ini. Sinar mentari pagi yang menusuk di antara sela-sela rimbunan dedaunan pohon. Aku merasa seperti berada di film-film Korea atau Jepang yang akhir-akhir ini aku tonton. Mereka berlalu-lalang dengan berjalan kaki persis seperti yang aku lakukan saat ini. Namun itu hanya bayanganku saja. Tak seperti yang aku lihat di hadapanku sekarang ini. Hampir semua orang berlalu–lalang dengan sepeda motor dan mobil pribadi mereka yang berhambur dengan truk pengangkut pasir, truk barang, becak dan bus. Beginilah kehidupan pagiku setiap hari. Seakan tak luput dari keramaian walaupun jarum jam di tanganku masih menunjukkan pukul 6 pagi.

Aku memulainya dengan harapan agar semua berjalan dengan cepat dan lancar. Tak terasa dua bulan lebih aku pulang pergi dari dan ke tempat yang sama. Dan sampai saat ini, aku sudah cukup bersyukur karena hampir semua yang telah kulalui berjalan sesuai dengan apa yang kuharapkan. Berkat pengalaman baruku ini juga aku mengenal banyak wajah dan pribadi baru. Memaksaku untuk terus beradaptasi dari waktu ke waktu. Pendidikan masa kecil yang telah ditanamkan sejak dini oleh ibuku pun tak luput kuterapkan di duniaku yang baru ini. Tata krama dan disiplin adalah yang paling banyak kugunakan dan kutemui saat ini.
Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu banyak flashback ke masa lalu. Disanalah kadang aku menertawakan diriku sendiri. Membenciku, menyesali apa yang telah kuperbuat, dan mengenang hingga tangis yang menyadarkanku. Kadang aku menyimpulkan, betapa bodohnya aku dulu. Melewatkan sesuatu yang seharusnya tidak aku biarkan begitu saja. Betapa polosnya aku saat mereka yang mendekatiku kemudian meninggalkanku tanpa sepatah kata apapun. Sejenak terlintas di benakku, mengapa aku begitu mudah memaafkan padahal begitu banyak cerita duka dibalik tangis yang kusimpan? Semuanya berbekas tanpa bisa terhapuskan. Aku selalu tak bisa menahan diri saat semua beban ada di pundakku. Bukan amarah yang ku lampiaskan, bukan berbicara di balik punggung mereka, dan bukan omelan yang terlontar dari lidahku. Hanya saja aku selalu memendamnya dan mencoba untuk tetap diam dan berpikir ke depan. Aku tak mau membagi bebanku sekalipun pada sahabatku. Mereka terlihat mengerti apa yang aku pikul sebenarnya di belakangku. Namun mereka tetap memperlihatkan wajah tulus mereka untuk meraihku dari suatu tempat yang jauh. Jauh dari keramaian canda tawa. Mereka membawaku dengan menerima bahwa memang beginilah diriku. Kami mengubah rintik hujan menjadi pelangi dengan seiring waktu.

Dan kembali lagi, seperti kata pepatah. Pengalaman adalah guru terbaik kita. Pengalaman bisa jadi masa lalu yang buruk ataupun yang baik bagi kita. Namun dari sanalah kita bisa melihat sisi kehidupan yang diajarkan pada kita bahwa dengan kesalahan kita bisa mengetahui dimana kesalahan kita berada dan mencoba untuk memperbaikinya. Dan dengan masa lalu yang baik kita bisa berguru padanya agar menjadi pribadi yang selalu rendah hati. Dengan begitu bisa disimpulkan pengalaman bisa menjadi cermin kita di masa yang akan datang. Semoga di tempat baruku ini aku bisa menorehkan di kertas pengalaman yang baru dan dengan tinta yang terbaik. Semoga.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar