Hari ini suasana di jalanan kota terasa begitu asri. Setiap hari
aku melalui jalanan ini. Jalanan trotoar yang sudah menjadi pijakan langkah
kakiku selama 2 bulan lebih ini. Sinar mentari pagi yang menusuk di antara
sela-sela rimbunan dedaunan pohon. Aku merasa seperti berada di film-film Korea
atau Jepang yang akhir-akhir ini aku tonton. Mereka berlalu-lalang dengan
berjalan kaki persis seperti yang aku lakukan saat ini. Namun itu hanya
bayanganku saja. Tak seperti yang aku lihat di hadapanku sekarang ini. Hampir
semua orang berlalu–lalang dengan sepeda motor dan mobil pribadi mereka yang
berhambur dengan truk pengangkut pasir, truk barang, becak dan bus. Beginilah
kehidupan pagiku setiap hari. Seakan tak luput dari keramaian walaupun jarum
jam di tanganku masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Aku memulainya dengan harapan agar semua berjalan dengan cepat
dan lancar. Tak terasa dua bulan lebih aku pulang pergi dari dan ke tempat yang
sama. Dan sampai saat ini, aku sudah cukup bersyukur karena hampir semua yang
telah kulalui berjalan sesuai dengan apa yang kuharapkan. Berkat pengalaman
baruku ini juga aku mengenal banyak wajah dan pribadi baru. Memaksaku untuk
terus beradaptasi dari waktu ke waktu. Pendidikan masa kecil yang telah
ditanamkan sejak dini oleh ibuku pun tak luput kuterapkan di duniaku yang baru
ini. Tata krama dan disiplin adalah yang paling banyak kugunakan dan kutemui
saat ini.
Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu banyak flashback ke masa
lalu. Disanalah kadang aku menertawakan diriku sendiri. Membenciku, menyesali
apa yang telah kuperbuat, dan mengenang hingga tangis yang menyadarkanku.
Kadang aku menyimpulkan, betapa bodohnya aku dulu. Melewatkan sesuatu yang
seharusnya tidak aku biarkan begitu saja. Betapa polosnya aku saat mereka yang
mendekatiku kemudian meninggalkanku tanpa sepatah kata apapun. Sejenak
terlintas di benakku, mengapa aku begitu mudah memaafkan padahal begitu banyak
cerita duka dibalik tangis yang kusimpan? Semuanya berbekas tanpa bisa
terhapuskan. Aku selalu tak bisa menahan diri saat semua beban ada di pundakku.
Bukan amarah yang ku lampiaskan, bukan berbicara di balik punggung mereka, dan
bukan omelan yang terlontar dari lidahku. Hanya saja aku selalu memendamnya dan
mencoba untuk tetap diam dan berpikir ke depan. Aku tak mau membagi bebanku
sekalipun pada sahabatku. Mereka terlihat mengerti apa yang aku pikul
sebenarnya di belakangku. Namun mereka tetap memperlihatkan wajah tulus mereka
untuk meraihku dari suatu tempat yang jauh. Jauh dari keramaian canda tawa.
Mereka membawaku dengan menerima bahwa memang beginilah diriku. Kami mengubah
rintik hujan menjadi pelangi dengan seiring waktu.
Dan kembali lagi, seperti kata pepatah. Pengalaman adalah guru
terbaik kita. Pengalaman bisa jadi masa lalu yang buruk ataupun yang baik bagi
kita. Namun dari sanalah kita bisa melihat sisi kehidupan yang diajarkan pada
kita bahwa dengan kesalahan kita bisa mengetahui dimana kesalahan kita berada
dan mencoba untuk memperbaikinya. Dan dengan masa lalu yang baik kita bisa
berguru padanya agar menjadi pribadi yang selalu rendah hati. Dengan begitu
bisa disimpulkan pengalaman bisa menjadi cermin kita di masa yang akan datang.
Semoga di tempat baruku ini aku bisa menorehkan di kertas pengalaman yang baru
dan dengan tinta yang terbaik. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar