“And when heart breaks no it don’t break
even
What am I suppose to do when the best part me always you?
What am I suppose to say when I’m all chocked up and you’re ok?
I’m falling to pieces”
What am I suppose to do when the best part me always you?
What am I suppose to say when I’m all chocked up and you’re ok?
I’m falling to pieces”
Suara alunan musik dari band kesayanganku The Script mengiang-iang
di telingaku. Kenangan itu kembali datang. Berputar putar memenuhi otakku. Sosoknya,
senyumnya, matanya, tingkahnya kembali memenuhi otak, pikiran, dan hatiku
(lagi). Entah sampai kapan aku bisa benar-benar pergi dari kenangan yang terus
menghantuiku selama 2 tahun terakhir ini. Aku masih saja mengingatnya. Dan
mungkin masih mencintainya, bukan hanya mencintai sosoknya namun mencintai
kenangannya juga. Si cewek ‘Beng-beng.’ Itulah julukan ku kepadanya, karena ia
merupakan penggemar Beng-beng yang setiap hari ia makan. Perempuan yang telah
mengisi ruang kosong hati ini dan dengan mudahnya mengunci rapat pintu hati ini
yang hanya menyisakan namanya.
2 tahun yang lalu, semuanya masih baik-baik saja. Masih ada dia,
masih ada senyumnya, masih ada canda tawanya. Tapi sekarang? Jangan ditanya
lagi. Semua yang awalnya baik-baik sekarang melenyap begitu saja. Yang awalnya
seperti bunga yang bermekaran begitu indah, sekarang bunga-bunga itu perlahan
jatuh berguguran seperti hati ini yang lama kelamaan menjadi seperti serpihan-serpihan
kertas. Sakit, dulu masih ada senyumnya yang selalu membuat ku semangat, masih
ada tatapannya yang teduh dan menenangkan, masih ada canda tawanya yang
membuatku benar-benar bahagia, masih ada dia yang selalu menyemangatiku saat
latihan teater ketika aku lelah, masih ada dia yang selalu menyuapi aku makan,
dan masih ada dia yang selalu di sampingku. Masih ada dia. Namun sekarang? Tak
ada lagi senyum manisnya, mata yang menenangkan, canda tawa darinya. Yang ada
hanya senyum datar, tatapan yang menyakitkan yang ia berikan kepadaku sekarang.
Miris.
Sekarang, tugasku untuk mencintainya telah diganti menjadi tugas
laki-laki lain yang lebih baik, lebih segala-segalanya dariku. Bagaimana bisa ini
semua terjadi begitu cepat? Ia meninggalkanku begitu saja, dan hanya sepatah
kata yang begitu menyakitkan saat ia berkata “kita temenan aja ya.” Tak bisakah
dia bayangkan bagaimana perasaanku saat ia mengatakannya? Sakit. Hancur.
Harapan-harapan yang telah aku harapkan hancur begitu saja. takkan pernah mudah
aku menerima kenyataan bahwa ia meninggalkanku dan memilih laki-laki lain.
Takkan pernah mudah, meskipun aku berkata bahwa aku telah merelakan dia dan
mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi, apa hati bisa berbohong? Tidak. Aku
tidak pernah merasakan baik-baik saja saat ia pergi. Semua terasa hampa.
Mungkin berlebihan, dan mungkin saja dia beranggapan seperti itu. Tapi inilah
kenyataannya. Dan dia? Tak pernah bisa membayangkan rasanya jadi aku. Bagaimana
rasanya ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya. Hahaha. Tentu saja ia tidak
akan pernah bisa merasakan jadi aku, karena dia tak punya hati. Karena dia,
selalu mendapatkan semua apa yang dia inginkan.
Jadi, apakah ini semua akhir dari apa yang selama ini aku
perjuangankan? Apa ini akhir kesempatanku untuk mencintai dan menjaganya lebih
dari ini? Inikah akhirnya? Apakah harus sesakit ini?
Seandainya saja aku tak pernah bertemu dengannya, mungkin aku
takkan merasakan sakit ini. tapi, jika dia tak pernah ada aku tak pernah tau
bagaimana rasanya pernah menjadi orang yang benar-benar istimewa dalam
sosoknya. Seandainya saja aku masih bersamanya, seandainya saja dia masih
disini, seandainya saja dia bisa kembali, aku akan mencintainya lebih baik dari
ini. Seandainya..
Untuk
Kamu yang Pernah Ada,
Terimakasih karena telah hadir di dalam kehidupanku. Meski
sesaat tapi kamu telah membuat segalanya menjadi lebih indah. Saat-saat bersama
kamu adalah saat-saat yang menyenangkan dan tak ingin aku akhiri. Terimakasih
atas semua yang telah kamu berikan.
Semoga kamu tau, setiap hari dalam waktuku aku berjuang untuk melupakanmu. Mencoba menghapus kamu dan kenangan yang sudah kamu kasih kepadaku. Tak pernah semudah yang kamu kira untuk melupakan semua yang sudah terjadi di antara kita.
Semoga kamu tau, setiap hari dalam waktuku aku berjuang untuk melupakanmu. Mencoba menghapus kamu dan kenangan yang sudah kamu kasih kepadaku. Tak pernah semudah yang kamu kira untuk melupakan semua yang sudah terjadi di antara kita.
Apa kamu bisa bayangkan menjadi seseorang yang merasa semua
baik-baik saja meski dalam hatinya ia menangis? Apa kamu bisa bayangkan menjadi
seseorang yang harus terlihat kuat dan terlihat tanpa beban saat melihat orang
yang ia cinta bahagia bersama yang lain? Apa kamu bisa bayangkan? Dan jika kamu
bisa bayangkan bagaimana rasanya, apa yang akan kamu lakukan? Melupakan dan
menganggapnya debu? Semudah itukah? Jika kamu ingin tau, itulah yang setiap
hari aku rasakan ketika kamu pergi.
Dan Untuk Kamu Yang Pernah Ada, Selamat bahagia dengan kekasih
barumu. Semoga kamu bisa terus bahagia bersamanya. Disini aku selalu mendoakan
yang terbaik untuk kamu.
Terimakasih.
Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar