SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA, MEDIA EKSPRESI DAN BERBAGI...

Abu Hurairah Bag 2

2. Kepribadian dan sosok Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah sosok sahabat yang berjiwa tenang, lembut tutur katanya,dan halus perasaannya. Siapapun yang duduk dimajelisnya, ia akan merasa tenang mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Kata-katanya bernilai tinggi, lisannya berpetuah, karena dari mulutnya banyak hadis Nabi yang ia riwayatkan. Bahkan, Abu Hurairahlah sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis Nabi.



Abu Hurairah adalah sahabat yang sederhana, bahkan bias dibilang kekurangan, karena ia menghibahkan dirinya untuk menyertai nabi dan menimba hadis-hadis beliau. Abu Hurairah tidak memiliki tanah untuk berkebun atau barang dagangan untuk diniagakan, sehingga ia meempunyai waktu yang luas untuk berinteraksi dengan nabi dalam setiap kesempatan. Karena begitu sederhananya, hingga ia sering menderita busung lapar hanya semata-mata untuk mengikuti nabi dalam rangka menghafal hadis-hadisnya dengan meninggalkan pekerjaan duniawi. Pernas suatu ketika karena begitu laparnya,Abu Hurairah tersungkur ke tanah yang ada diantara mimbar dan batu, hingga ia dikira gila, padahal ia kelaparan. Ia pun menaruh batu di perutnya untuk menahan laparnya itu.

Abu Hurairah melewati hari dan malamnya dengan tanpa menemukan sesuatu yang bias menegakkan tulang punggungnya. Ia pun berkata “sungguh saya selalu menyertai Rasulullah untuk mengisi perut saya, sehingga saya makan adonan asam, tidak memakai sutera, dan tidak ada fulan serta fulanah yang melayani saya. Saya mengajarkan satu ayat Al-Qur’an yang saya kuasai kepada seseorang agar ia membalas jasaku dengan member makan kepadaku.” Kemudian ia berkata, “saya berada bersama penghuni ash-Shuffah, tidak seorangpun dari mereka memakai jubah, burdah, atau pakaian yang mereka ikatkan pada leher mereka.” Ia pun sering didoakan oleh Nabi dan diberi makan olehnya. Hal ini menunjukkan betapa sederhananya mereka dalam hidup, sampai dalam makan dan berpakaian sekalipun.

Ada seorang tokoh tabiin, yaitu Said Ibnu al-Musayyab (15-94 H) berkata, “saya melihat Abu Hurairah berkeliling di pasar, kemudian ia mendatangi keluarganya dan bertanya, ‘apakah engkau memiliki sesuatu?’ lalu mereka menjawab ‘tidak ada’, maka Abu Hurairah berkata, “kalau begitu, saya berpuasa.”

Abu Hurairah adalah orang yang qanaah, merasa cukup dan rida dengan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Jika di pagi hari ia memiliki lima belas buah kurma, maka ia berbuka dengan lima buah kurma, bersahur dengan lima buah kurma lagi, dan ia menyisakan lima buah kurma lainnya untuk berbuka kemudian. Ia banyak bersyukur, mumuji, bertakbir, dan bertasbih kepada Allah atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Begitulah, dalam kesederhanaan dan kekurangannya, Abu Hurairah mencapai kemuliannya bersama Nabi dan hadisnya.

Sifatnya yang mulia membuat Abu Hurairah disukai banyak orang. Bahkan ketika ia menjabat sebagai Gubernur Madinah di  masa setelah Nabi wafat yaitu pada masa kekuasaan Marwan, Abu Hurairah tetap tidak berubah. Ia tetap rendah hati dan berbudi mulia. Ketika Abu Hurairah menjadi Gubernur Madinah, ia pun masih mencari kayu bakar untuk keperluan rumah tangganya. Ketika ia melewaati pasar sambil membawa kayu bakar, ia berkata kepada Tsa’labah bin Abi Malikal-Qardhi, “berilah jalan untuk gubernur hai Abi Malik!” Tsa’labah menyahut: “semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu, cukuplah hal ini.” Ia berkata, “lapangkanlah jalan untuk gubernur dari seikat kayu bakar di atas punggungnya.”

Selain itu, Abu Hurairah juga seorang yang jenaka, selalu gembira, dan menyayangi anak-anak.  Pernah suatu hari ketika ia masih menjadi gubernur Madinah, Abu Hurairah berjalan-jalan di malam harridan bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain. Abu Hurairah menyelinap ikut bermain dengan anak-anak tersebut tanpa mereka mengetahuinya. Spontan, Abu Hurairah pun ikut bermain dengan anak-anak itu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah seperti orang gila sehingga mereka pun saling tertawa gembira dan berlarian kesana kemari.

Abu Hurairah juga dikenal murah hati, mencintai kebaikan, tidak kikir atas apa yang dimilikinya, dan sangat menghormati tamunya. Ath-Thawafi berkata, “saya tinggal di rumah Abu Hurairah di Madinah selama enam bulan. Saya tidak melihat seorang sahabat Rasulullah yang perhatiannya (keoada orang lain) melebihi dia, dan saya tidak betah (di rumah orang lain) selain rumah Abu Hurairah.”

Bersambung lagi yaa...

Artikel sebelumnya baca DISINI


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar